Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Mrah itu bara api maka siapa yang merasakan demikian, jika ia sedang berdiri makan hendaklah duduk, bila ia sedang duduk hendaklah bersandar (berbaring)."
Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Awaslah kamu dari marah-marah, kerana marah itu bererti menyalakan api dalam kalbu anak Adam, tidakkah kamu melihat seseorang yang marah itu merah matanya dan tegang urat-uarat lehernya, kerana itu bila seseorang merasakan yang demikian hendaklah berbaring dan meletakkan badannya ditanah."
Sesungguhnya ada diantara kamu orang yang lekas marah tetapi juga lekas reda, maka ini seimbang dan ada yang lambat marah dan lambat sembuh (reda), ini juga seimbang, dan sebaik-baik kamu lambat marah dan cepat re;a. dan sejahat-jahat kamu yang cepat marah dan lambat sembuhnya."
Abu Umamah Albahili r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Siapa yang dapat menahan marah padahal ia dapat (kuasa) untuk memuaskan marahnya itu, tetapi tidak dipuaskan bahkan tetap ditahan/disabarkan, maka Allah s.w.t. mengisi hatinya dengan keridhoan pada hari kiamat."
Tercantum dalam Injil: "Hai anak Adam,ingatlah kepadaKu ketika kau marah, nescaya Aku ingat kepadamu diwaktu Aku marah (Yakni akan dirahmati oleh Allah s.w.t.) Dan relakan hatimu dengan pembelaanKu kepadamu, sebab pembelaanKu kepadamu lebih baik dari pembelaanmu terhadap dirimu sendiri."
Umar bin Abdul Aziz berkara kepada orang yang telah memarahkannya: "Andaikan engkau tidak membikin marahku, nescaya sudah saya beri hukuman." Yakni Umar ingin menurut kepada unjuran Allah s.w.t. didalam ayat yang berbunyi: "Walkaa dziminal ghaidha." (Yang bermaksud): "Dan mereka yang dapat menahan marah." kerana itu, ketika ia mendapat kesempatan untuk menahan maka langsung dipergunakan.
Umar bin Abdul Aziz melihat seorang yang mabuk, maka ketika akan ditangkap untuk dihumkum dera, tiba-tiba dimaki oleh orang yang mabuk itu, maka Umar kembali tidak jadi menghukum dera, dan ketika ditanya: "Ya Amirul mukminin, mengapakah setelah ia memaki kepadamu tiba-tiba engkau tinggalkan?" Jawab Umar: "Kerana ia menjengkel aku maka andaikan aku hukum (pukul) mungkin kerana murka ku kepadanya, dan saya tidak suka memukul seorang hanya membela diriku (untuk kepentingan diriku)."
Maimun bin Mahran ketika budaknya menghidangkan makanan dan membawa kuah, tiba-tiba tergelincir kakinya sehingga tertuang kuah itu kebadan Maimun dan ketika Maimun mahu memukul budak itu, tiba-tiba ia berkata: "Tuanku, laksanakanlah ajaran Allah s.w.t. (Yang berbunyi): "Walkadhiminal ghaidha." (Yang bermaksud): "Dan mereka yang menahan marah." Maimun berkata: "Baiklah." Maka budak itu berkata: "Kerjakan lanjutannya (ayat yang berbunyi: "Wal afina aninnas." (Yang bermaksud): "Dan engkau memaafkan orang." Maimun berkata: "Saya maafkan engkau." Budak itu berkata: "Kerjakan lanjutannya (ayat yang berbunyi: "Wallahu yhibbul muhsinin." (Yang bermaksud): "Dan Allah kasih kepada orang yang berbuat kebaikan." Maimun berkata: "Saya berbuat baik kepadamu, maka engkau kini merdeka kerana Allah s.w.t."
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Siapa yang tidak mempunyai tiga sifat, tidak dapat merasa manisnya iman iaitu:
*
Kesabaran untuk menolak kebodohan orang yang bodoh
*
Warak yang dapat mencegah dari yang haram
*
dan akhlak untuk bergaul dengan manusia (dan akhlak untuk masyarakat)
Ada seorang yang mempunyai kuda yang sangat dibanggakan, tiba-tiba pada suatu hari ia melihat kudanya patah satu kakinya sehingga tinggal tiga kaki, lalu ia bertanya kepada budaknya: "Sipa yang berbuat itu?" Jawab budaknya: "Saya." Ditanya lagi: "Mengapa?" jawab budaknya: "Supaya engkau risau." Berkata orang itu: "Saya akan membalas menjengkelkan siapa yang menyuruh engkau berbuat itu (yakni syaitan laknatullah)." Maka ia berkata kepada budaknya: "Pergilah engkau, saya merdekakan dan itu kuda untukmu."
Abul Laits berkata: "Seharusnya seorang mukmin bersifat sabar, tenang sebab itu termasuk sifat orang muttaqin yang dipuji oleh Allah s.w.t.
Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi: "Walaman shobara waghafara inna dzailika lamin azmilumur." (Yang bermaksud): "Dan siapa yang sabar dan memaafkan maka itu termasuk seutama-utamanya sesuatu."
Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "Wala tastawil hasanatu walas sayyi'atu idfa billati hiya ahsan fa idzalladzi bainaka wa bainahu adaa watun ka'annahu waliyyun hamim." (Yang bermaksud): "Dan tidak dapat disamakan kebaikan dengan kejahatan, tolaklah segala sesuatu itu dengan cara yang baik, tiba-tiba seorang yang musuh denganmu dapat berubah menjadi kawan yang akrab."
Juga Allah s.w.t. memuji Nabi Ibrahim a.s. dialam ayat (Yang berbunyi): "Inna Ibrahim lahalimun awwahun mubin." (Yang bermaksud): "Ssesungguhnya Ibrahim seorang yang sabar, selalu mengingati dosa dan kesalahan dirinya dan bertaubat."
Juga Allah s.w.t. berfirman didalam ayat (Yang berbunyi): "Fasbir kama shobaro ulul azmi minarrusuli." (Yang bermaksud): "Maka sabarlah sebagaimana kesabaran orang-orang yang bersemangat besar dari para rasul sebelummu."
Alhasan ketika mengingati ayat (Yang berbunyi): "Wa idza khatobahumul jaa hiluuna qaalu: salaamaa." (Yang bermaksud): "Dan bila dicaci maki oleh orang-orang yang bodoh-bodoh, mereka sabar tidak melayan."
Wabh bin Munabbih berkata: "Ada seorang ahli ibadat Bani Israil akan disesatkan oleh syaitan laknatullah tetapi tidak dapat, maka pada suatu hari ia keluar untuk suatu hajat kepentingan, maka diikuti oelh syaitan laknatullah kalau-kalau ia mendapat kesempatan, maka syaitan laknatullah berusaha dari ayahwat dan marahnya juga tidak dapat, maka diusahakan dari ketakutannya, maka dibayangkan kepadanya seolah-olah akan dijatuhi batu bukit yang besar, tetapi ia selalu berdzikir kepada Allah s.w.t. sehingga terhindar, dan adakalanya semua itu tidak dihiraukan, dan adakalanya berupa ular yang melingkar dikakinya ketika sembahyang dan merambat kebadan sehingga keatas kepalanya, kemudian ditempat sujudnya, manakala akan sujud ular itu akan membuka mulutnya seakan-akan akan menelan kepalanya, maka ia hanya menyingkirkan dengan tangannya sampai dapat bersujud. Dan ketika selesai sembahyang, syaitan lakntullah datang kepadanya dan berkata: "Saya sudah untuk usaha untuk menyesatkan kamu tetapi tidak dapat, dan kini saya akan berkawan sahaj kepadamu." Jawabnya: " Sedang pada saat engkau menakuti aku, alhamdulillah saya tidak takut, demikian pula sekarang saya tidak ingin bersahabat dengan engkau.". Lalu syaitan laknatullah itu berkata: "Apakah tidak tahu bagaimana keadaan keluargamu sepeninggalanmu?" jawabnya: "Saya telah mati sebelum mereka." "Lalu pakah kamu tidak tanya kepadaku bagaimana aku dapat menyesatkan anak Adam?: Tanya syaitan laknatullah itu. Jawab orang alim itu: "Baiklah, bagaimana kamu menyesatkan anak Adam?" Syaitan laknatullah menjawab: "Dengan tiga macam iaitu:
*
Bakhil (kikir)
*
Marah
*
dan mabuk
Sebab manusia jika bakhil kami bayangkan kepadanya bahawa hartanya sangat sedikit sehingga ia sayang untuk mengeluarkan untuk kewajipan-kewajipannya, dan bila ia pemarah, maka kami permainkan ia sebagai anak kecil mempermainkan bola, meskipun ia dapat menghidupkan orang mati dengan doanya, kami tetap tidak patah harapan untuk dapat menyesatkannya, sebab ia membangun dan kami yang merobohkan dengan satu khalimat sahaja. Demikian pula jika seseorang telah mabuk, maka kami tuntun dengan mudah kepada segala kejahatan sebagaimana kambing dituntun sesuka kami." Disini syaitan laknatullah telah menyatakan bahawa orang yang marah jatuh ketangan syaitan laknatullah bagaikan bola ditangan anak-anak kecil, kerana itu seseorang harus sabar supaya tidak jatuh dalam tawanan syaitan laknatullah dan tidak sampai gugur dalam perbuatannya."
Ibalis laknatullah datang kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: "Engkaulah yang dipilih Allah s.w.t. untuk risalah dan langsung berkata-kata kepadamu, sedang aku seorang makhluk biasa, yang ingin juga bertaubat kepada Tuhan, maka tolonglah aku semoga dapat diterima taubatku." Maka Nabi Musa a.s. merasa gembira lalu ia wuduk dan sembahyang kemudian ia berdoa: "Ya Tuhan, iblis (laknatullah) seorang makhlukMu, ia akan bertaubat, maka terimalah taubatnya." Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: "Ya Musa, dia tidak akan bertaubat." jawab Nabi Musa a.s.: "Ya Tuhan, dia minta taubat." Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: "Aku telah menerima permintaamu Musa, maka suruhlah ia sujud kepada kubur Adam, maka Aku akan menerima taubatnya." Nabi Musa a.s.sangat gembira dan menyampaikan suara wahyu itu kepada Iblis laknatullah, tiba-tiba iblis laknatullah itu marah dan sombong serta berkata: "Saya tidak sujud kepadanya dimasa hidupnya, bagaimana akan sujud sesudah matinya?" Lalu iblis laknatullah berkata: "Hai Musa, kerana engkau telah menolong aku kepada Tuhan, maka kini engkau berhak mendapat hadiah daripadaku, maka saya pesan kepadamu tiga macam iaitu:
*
Ingatlah kepadaku ketika marah, sebab aku didalam tubuhmu mengikuti saluran darah
*
Ingatlah kepadaku ketika menghadapi musuh didalam perang sebab aku datang kepada anak Adam mengingatkan kepadanya keadaan isteri dan anak keluarganya dan hartanya sehingga ia lari kebelakang
*
Awas, jangan duduk sendirian dengan wanita yang bukan muhrim sebab aku sebagai utusannya kepadamu dan utusanku kepadanya
Luqman Alhakiem berkata kepada anak lelakinya: "Hai anak, tiga macam yang tidak diketahui kecuali pada tiga macam iaitu:
*
Orang yang sabar tidak dikatahui kecuali ketika marah
*
Orang yang berani tidak diketahui kecuali ketika perang
*
Saudara tidak diketahui kecuali ketika berhajat (berkepentingan)
Seorang alim dari tabi'in dipuji orang, maka ia bertanya kepada orang yang memuji: "Apakah engkau pernah menguji aku ketika marah sehingga engkau ketahui kesabaranku?" Jawab orang itu: "Tidak." Tanya orang alim itu lagi: "Apakah engkau pernah menguji aku didalam berpergian sehingga engkau mengtahui kebaikan akhlakku?" Jawab orang itu: "Tidak." "Apakah engkau pernah menguji amanatku sehingga engkau ketahui benar-benar aku seorang yang amanat?" Jawab orang itu: "Tidak." Berkata orang alim itu: "Celaka engkau, seorang tidak boleh memuji lain orang sebelum diuji dalam tiga macam itu."
Tiga macam dari akhlak orang syurga dan tidak dapat kecuali pada orang yang baik budi iaitu:
*
Memaafkan orang yang zalim kepadamu
*
Memberi kepada orang yang bakhil kepadamu
*
Membantu orang yang bersalah kepadamu
Nabi Muhammad s.a.w. bertanya kepada Jibril tentang tafsir ayat (Yang berbunyi): "Khudzil afwa wa'mur bil urfi wa'aridh anil jahilin?." Jawab Jibril: "Aku akan bertanya kepada Allah s.w.t." dan Jibril berkata: "Ya Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. menyuruhmu menghubungi kerabat yang memutuskan hubungan padamu dan memberi pada orang yang bakil kepadamu dan memaafkan orang yang aniaya kepadamu."
Ibn Ajlan dari Said Almagburi dari Abuhurairah r.a. berkata: "Ada seorang memaki Abu Bakar Assisiq r.a. sedang Nabi Muhammad s.a.w. duduk, maka Nabi Muhammad s.a.w. diam. Abu bakar menjawab, maka segera Nabi Muhammad s.a.w. bangun dari temaptnya, maka dikejar oleh Abu Bakar sambil berkata: "Ya Rasulullah, dia maki-maki saya dan engkau diam, ketika saya jawab, tiba-tiba engkau bangun pergi?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Ssesungguhnya Malaikat telah mengembalikan semua makian orang itu kepadanya ketika engkau diam dan ketika engkau menjawab makian, maka pergilah Malaikat itu dan duduk syaitan laknatullah, maka saya tidak suka duduk ditempat duduk bersama syaitan laknatullah." Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Tiga macam semuanya hak iaitu:
*
Tiada seorang yang dianiaya lalu memaafkannya kerana mengharap keridhoan Allah s.w.t. melainkan pasti ditambah kemuliaan oleh Allah s.w.t.
*
Tiada seorang yang membuka jalan meminta-minta kerana ingin bertambah kekayaan melainkan ditambah kekurangannya (kemiskinan) oleh Allah s.w.t.
*
Tiada seorang yang memberi sesuatu ikhlas kerana Allah s.w.t. melainkan ditambah banyak oleh Allah s.w.t.
Abul Laits dari ayahnya dengan sanadnya dari Muhammad bin Ka'ab Alqurandhi dari Ibn Abbas r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Tiap-tiap sesuatu ada kemuliaannya, semulia-mulia majlis yang menghadap khiblat. Dan majlis (duduk-duduk) diantara kamu itu berlaku amanat (segala yang terjadi dimajlis itu sebagai amanat dari yang hadir, tidak boleh dibuka segala yang terjadi dimajlis itu), dan jangan sembahyang dibelakang orang yang sedang tidur dan yang berhadas, dan bunuhlah ular dan kalajengking meskipun kamu sedang sembahyang, dan jangan menutup dinding dengan kain, dan siapa yang melihat surat saudaranya tanpa izin, maka bagaikan melihat api. Dan siapa yang ingin menjadi yang terkuat hendaklah berserah diri kepada Allah s.w.t. dan siapa yang ingin menjadi sekaya-kaya manusia hendaklah lebih percaya kepada jaminan Allah s.w.t. daripada apa yang ditangannya." Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda lagi: "Sukah saya memberitahu orang yang sejahat-jahat kamu?" Jawab sahabat: "Baiklah, ya Rasulullah." Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Orang yang makan sendiri dan tidak suka membantu, dan selalu kejam dan memukul hamba sahayanya." Nabi Muhammad s.a.w. bersabda lagi: "Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?" Jawab para sahabat: "Baiklah, ya Rasulullah." Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: " Orang yang membenci dan dibenci orang-orang." Kemudian ditanya lagi: "Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?" Jawab para sahabat: "Baiklah, ya Rasulullah." Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Orang yang tidak suka memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menerima permintaan maaf atau udzur orang." Kemudian ditanya lagi: "Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?" Jawab para sahabat: "Baiklah, ya Rasulullah." Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Orang yang tidak dapat diharap kebaikannya dan tidak aman dari gangguannya." Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Nabi Isa a.s. bersabda: "Hai Bani Israil, kamu jangan membicarakan hikmat pada orang yang bodoh, bererti kamu telah aniaya pada hikmat itu, dan jangan kamu sembunyikan dari ahlinya, maka bererti kamu aniaya pada hikmat itu dan pada orang-orang yang berhak itu. Dan jangan kamu membalas orang jahat dengan kejahatan, maka hilang kebaikanmu disisi Tuhanmu. Hai Bani Israil, semua urusan itu hanya terbahagi tiga iaitu:
*
Urusan yang nyata baiknya maka ikutilah
*
Urusan yang nyata sesatnya maka tinggalkanlah
*
Urusan yang masih ragu kembalilah kepada Allah s.w.t. dan Rasulullah (Al-Quran dan sunnaturasul)
Seorang cendikiawan berkata: "Zuhud (tidak rakus) didunia ini kerana empat iaitu:
*
Percaya benar pada janji Allah s.w.t. didunia dan diakhirat
*
Harus menganggap puji dan makian orang-orang itu sama sahaja (tidak merasa besar kerana dipuji dan tidak merasa rendah kerana dihina orang)
*
Ikhlas dalam amal perbuatanmu
*
Memaafkan orang yang aniaya padanya dan tidak marah-marah kepada budak sahayanya dan menjadi tenang sabar
Abu Darda r.a. berkata: "Seorang berkata kepadanya: "Ajarkan kepadaku beberapa kalimah yang berguna bagiku." Abu Darda berkata: "Saya berwasiat kepadamu beberapa kalimah, siapa yang mengamalkan maka ia mendapat darjat yang tinggi sebagai pahalanya iaitu:
*
Jangan makan kecuali yang halal
*
Anggaplah dirimu dari golongan yang mati
*
Serahkan dirimu kepada Allah s.w.t, maka siapa yang maki atau mengganggu kepadamu maka katakan: "Kehormatanku telah aku serahkan kepada Allah s.w.t."
*
Jika engkau berbuat kesalahan atau dosa maka segera minta ampun kepada Allah s.w.t.
Ketika Nabi Muhammad s.a.w. patah giginya dalam perang Uhud, maka para sahabat berkata kepadanya: "Ya Rasulullah, andaikan engkau berdoa kepada Allah s.w.t. terhadap orang yang telah berbuat kepadamu sedemikian itu." Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Sesungguhnya aku tidak diutus untuk mengutuk tetapi aku diutus untuk berdakwah dan rahmat, ya Allah, berilah hidayat kepada kaumku maka mereka benar-benar belum mengetahui."
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Siapa yang menahan dari kehormatan kaum muslimin, maka Allah s.w.t. memaafkan kesalahan-kesalahannya pada hari kiamat, dan siapa yang menahan marahnya, maka Allah s.w.t. akan menghindarkan dari murkaNya pada hari kiamat."
Mujahid berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. berjalan melalui kaum yang sedang mengangkat batu dan melihat siapakah yang lebih kuat diantara mereka, maka Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: "Apakah batu itu?" Jawab mereka: "Ini batu kekerasan." Maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Sukakah saya beritahu kepada kamu yang lebih keras daripada itu?" Jawab mereka: "Ya, ya Rasulullah." Maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Orang yang bentrol dengan saudaranya sehingga mendongkol, kemudian dapat mengalahkan syaitan laknatullah dan datang kepada saudaranya itu lalu mengajak damai dan baik kepadanya." Dilain riwayat pula dikatakan: "Nabi Muhammad s.a.w. melihat kaum melatih kekuatan itu dengan mengangkat batu, maka Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: "Apakah kamu mengukur kekuatan dengan mengangkat batu? Sukakah saya beritahu kepadamu yang lebuh kuat dari kamu?" Jawab mereka: "Ya, ya Rasulullah." Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Iaitu orang yang penuh marah lalu menahan marahnya dan sabar."
Yahya bin Mu'adz berkata: "Siapa yang mendoakan orang yang menganiaya kepadanya, maka ia telah menyusahkan Nabi Muhammad s.a.w ditengah-tengah para Nabi-nabi yang lain, dan menyenangkan orang mal'un iaitu iblis laknatullah ditengah-tengah syaitan laknatullah dan orang-orang kafir. Dan siapa yang memaafkan orang yang zakim, maka ia telah menyedihkan kepada iblis laknatullah ditengah-tengah orang kafir dan syaitan laknatullah dan menyenangkan Nabi Muhammad s.a.w. ditengah-tengah para Nabi dan orang-orang solihin."
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Pada hari kiamat akan ada seruan: "Dimanakah orang-orang yang pahala mereka dijamin oleh Allah s.w.t, maka bangkitlah orang yang telah memaafkan pada manusia lalu masuk syurga."
Al-Ahnaf bin Qays ditanya: "Apajah kemanusiaan itu? Jawabnya:
*
Merendahkan diri didalam kekuasaan kerajaan
*
Memaafkan ketika berkuasa dan
*
Memberi tanpa menyebut-nyebut
Athiyah berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Orang mukmin itu lunak-lunak, baik-baik bagaikan unta yang terkendali hidungnya, jika dituntun menurut dan jika dihentikan dibukit juga berhenti."
Abul Laits berkata: "Pergunakanlah sabar ketika merah dan awaslah kamu dari keburuan ketika marah kerana keburuan dalam marah itu mengakibatkan tiga macam iaitu:
*
Menyesal diri
*
Tercela oleh orang-orang
*
Siksa dari Allah s.w.t.
Sebab sabar itu memang pahit pada mulanya tetapi manis pada akhirnya, sebagaimana kata pujangga: "Alhilmu awwalahu murrun madzaqatuhu, laakin akhiruhu ahla minal asali ashshabru kashshabiri murrun fi madzaqatihi laakin awaqibuhu ahla minal asali." (Yang bermaksud): "Sabar itu pada mulanya pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu. Sabar itu bagaikan jadam pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu."
Posted by Rockbebeh at 6:23 AM
Labels: Tanbihul Ghafilin (Peringatan bagi yang lupa)
Newer Post Older Post Home
Saturday, August 14, 2010
Rabi'atul Adawiyah Al-Basriyah kecintaannya kepada Allah hingga malaikat boleh berbicara dengannya atas perintah Allah....
sama seperti yang dialami oleh iman al ghazali boleh berbicara dengan malaikat hingga diajar Allah ilmu ilmu untuk akhirat melalui malaikat. barulah aku faham maksud Allah didalam quran "bahwa Allah akan menunjuk dan membimbing sesiapa yang dikehendakinya" bermaksud mereka yang ikhlas dan cintakan Allah dan rasulnya... buktinya.... lihat kisah ini , iman al ghazali dan kisah diluar negara seorang budak yang dilahirkan dari perut org kristien yang pandai solat 5 waktu dan pandai membaca quran serta berceramah kepada umum supaya mengikuti ajaran rasulullah s.a.w, INI SEMUA BUKTI YANG ALLAH TERAMAT CINTAKAN HAMBANYA CUMA HAMBANYA SAHAJA YANG TIDAK MAHU MENCARI TUHANNYA. dan ada kisah yang pelik pelik yang ditunjukkan Allah namun kebenaran memang manusia tidak akan menerimanya... contohnya di ---> sini <---- dan di ---> sini <---- semuanya telah ditunjukkan Allah.. dan memang benarlah firman Allah jika quran boleh membuatkan gunung berkata kata sekalipun manusia tidak akan beriman dengan sebenar benarnya dan boleh dikatakan manusia tertutup hatinya dan akalnya oleh syaitan walaupun mereka berkata syaitan tidak boleh mendampinginya.... cara paling mudah adalah.... jika seseorang menunjukkan satu ajaran... sila tengok dan pastikan dengan betulnya bahawa ianya mesti berdasarkan al-quran dan sunnah rasulullah.... jika tidak tolak sahaja ajarannya... agar tidak merosakkan aqidah manusia dan agar tidk menangia diakhirat nanti. Ibubapa Rabia'atul-adawiyyah adalah orang miskin. Hinggakan dalam rumah mereka tidak ada minyak untuk memasang lampu dan tidak ada kain untuk membalut badan beliau. Beliau ialah anak yang keempat. Ibunya menyuruh ayahnya meminjam minyak dari jiran. tetapi bapa beliau telah membuat keputusan tidak akan meminta kepada sesiapa kecuali kepada Allah. Bapa itu pun pergilah berpura-pura ke rumah jiran dan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu agar tidak didengar oleh orang dalam rumah itu. Kemudian dia pun pulang dengan tangan kosong. Katanya orang dalam rumah itu tidak mahu membuka pintu. Pada malam itu si bapa bermimpi yang ia bertemu dengan Nabi. Nabi berkata kepadanya, "Anak perempuanmu yang baru lahir itu adalah seorang yang dikasihi Allah dan akan memimpin banyak orang Islam ke jalan yang benar. Kamu hendaklah pergi berjumpa amir Basrah dan beri dia sepucuk surat yang bertulis - kamu hendaklah berselawat kepada Nabi seratus kali tiap-tiap malam dan empat ratus kali tiap-tiap malam Jumaat. Tetapi oleh kerana kamu tidak menmatuhi peraturan pada hari Khamis sudah, maka sebagai dendanya kamu hendaklah membayar kepada pembawa surat ini empat ratus dinar."
Bapa Rabi'atul-adawiyyah pun terus jaga dari tidur dan pergi berjumpa dengan amir tersebut, dengan air mata kesukaan mengalir di pipinya. Amir sungguh berasa gembira membaca surat itu dan faham bahawa beliau ada dalam perhatian Nabi. Amir pun memberi sedekah kepada fakir miskin sebanyak seribu dinar dan dengan gembira memberi bapa Rabi'atul-adawiyyah sebanyak empat ratus dinar. Amir itu meminta supaya bapa Rabi'atul-adawiyyah selalu mengunjungi beliau apabila hendakkan sesuatu kerana beliau sungguh berasa bertuah dengan kedatangan orang yang hampir dengan Allah. Selepas bapanya meninggal dunia, Basrah dilanda oleh kebuluran. Rabi'atul-adawiyyah berpisah dari adik-beradiknya. Suatu ketika kafilah yang beliau tumpangi itu telah diserang oleh penyamun. Ketua penyamun itu menangkap Rabi'atul-adawiyyah untuk dijadikan barang rampasan untuk dijual ke pasar sebagai abdi. Maka lepaslah ia ke tangan tuan yang baru.
Suatu hari, tatkala beliau pergi ke satu tempat atas suruhan tuannya, beliau telah dikejar oleh orang jahat. beliau lari. Tetapi malang, kakinya tergelincir dan jatuh. Tangannya patah. Beliau berdoa kepada Allah, "Ya Allah! Aku ini orang yatim dan abdi. Sekarang tanganku pula patah. tetapi aku tidak peduli segala itu asalkan Kau rida denganku. tetapi nyatakanlah keridaanMu itu padaku." Tatkala itu terdengarlah suatu suara malaikat, "Tak mengapa semua penderitaanmu itu. Di hari akhirat kelak kamu akan ditempatkan di peringkat yang tinggi hinggakan Malaikat pun kehairanan melihatmu." Kemudian pergilah ia semula kepada tuannya. Selepas peristiwa itu, tiap-tiap malam ia menghabiskan masa dengan beribadat kepada Allah, selepas melakukan kerja-kerjanya. Beliau berpuasa berhari-hari.
Suatu hari, tuannya terdengar suara rayuan Rabi'atul-adawiyyah di tengah malam yang berdoa kepada Allah : "Tuhanku! Engkau lebih tahu bagaimana aku cenderung benar hendak melakukan perintah-perintahMu dan menghambakan diriku dengan sepenuh jiwa, wahai cahaya mataku. Jikalau aku bebas, aku habiskan seluruh masa malam dan siang dengan melakukan ibadat kepadaMu. tetapi apa yang boleh aku buat kerana Kau jadikan aku hamba kepada manusia."
Dilihat oleh tuannya itu suatu pelita yang bercahaya terang tergantung di awang-awangan, dalam bilik
Rabi'atul-adawiyyah itu, dan cahaya itu meliputi seluruh biliknya. Sebentar itu juga tuannya berasa adalah berdosa jika tidak membebaskan orang yang begitu hampir dengan Tuhannya. sebaliknya tuan itu pula ingin menjadi khadam kepada Rabi'atul-adawiyyah.
Esoknya, Rabi'atul-adawiyyah pun dipanggil oleh tuannya dan diberitahunya tentang keputusannya hendak menjadi khadam itu dan Rabi'atul-adawiyyah bolehlah menjadi tuan rumah atau pun jika ia tidak sudi bolehlah ia meninggalkan rumah itu. Rabi'atul-adawiyyah berkata bahawa ia ingin mengasingkan dirinya dan meninggalkan rumah itu. Tuannya bersetuju. Rabi'atul-adawiyyah pun pergi.
Suatu masa Rabi'atul-adawiyyah pergi naik haji ke Mekkah. Dibawanya barang-barangnya atas seekor keldai yang telah tua. Keldai itu mati di tengah jalan. Rakan-rakannya bersetuju hendak membawa barang -barangnya itu tetapi beliau enggan kerana katanya dia naik haji bukan di bawah perlindungan sesiapa. Hanya perlindungan Allah S.W.T. Beliau pun tinggal seorang diri di situ. Rabi'atul-adawiyyah terus berdoa, "Oh Tuhan sekalian alam, aku ini keseorangan, lemah dan tidak berdaya. Engkau juga yang menyuruhku pergi mengunjungi Ka'abah dan sekarang Engkau matikan keldaikudan membiarkan aku keseorangan di tengah jalan." Serta-merta dengan tidak disangka-sangka keldai itu pun hidup semula. Diletaknya barang-barangnya di atas keldai itu dan terus menuju Mekkah. Apabila hampir ke Ka'abah, beliau pun duduk dan berdoa, "Aku ini hanya sekepal tanah dan Ka'abah itu rumah yang kuat. Maksudku ialah Engkau temui aku sebarang perantaraan." Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, patutkah Aku tunggangbalikkan dunia ini kerana mu agar darah semua makhluk ini direkodkan dalam namamu dalam suratan takdir? Tidakkah kamu tahu Nabi Musa pun ada hendak melihatKu? Aku sinarkan cahayaKu sedikit sahaja dan dia jatuh pengsan dan Gunung Sinai runtuh menjadi tanah hitam." Suatu ketika yang lain, semasa Rabi'atul-adawiyyah menuju Ka'abah dan sedang melalui hutan, dilihatnya Ka'abah datang mempelawanya. Melihatkan itu, beliau berkata, "Apa hendakku buat dengan Ka'abah ini; aku hendak bertemu dengan tuan Ka'abah (Allah) itu sendiri. Bukankah Allah juga berfirman iaitu orang yang selangkah menuju Dia, maka Dia akan menuju orang itu dengan tujuh langkah? Aku tidak mahu hanya melihat Ka'abah, aku mahu Allah."
Pada masa itu juga, Ibrahim Adham sedang dalam perjalanan ke Ka'abah. Sudah menjadi amalan beliau mengerjakan sembahyang pada setiap langkah dalam perjalanan itu.
Maka oleh itu, beliau mengambil masa empat belas tahun baru sampai ke Ka'bah. Apabila sampai didapatinya Ka'abah tidak ada. Beliau sangat merasa hampa. Terdengar olehnya satu suara yang berkata, "Ka'abah itu telah pergi melawat Rabi'atul -adawiyyah." Apabila Ka'bah itu telah kembali ke tempatnya dan Rabi'atul-adawiyyah sedang menongkat badannya yang tua itu kepada kepada tongkatnya, maka Ibrahim Adham pun pergi bertemu dengan Rabi'atul-adawiyyah dan berkata "Rabi'atul-adawiyyah, kenapa kamu dengan perbuatanmu yang yang ganjil itu membuat haru-biru di dunia ini?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Saya tidak membuat satu apa pun sedemikian itu, tetapi kamu dengan sikap ria (untul mendapat publisiti) pergi ke Ka'abah mengambil masa empat belas tahun." Ibrahim mengaku yang ia sembahyang setiap langkah dalam perjalanannya. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Kamu isi perjalananmu itu dengan sembahyang,tetapi aku mengisinya dengan perasaan tawaduk dan khusyuk." Tahun kemudiannya, lagi sekali Rabi'atul-adawiyyah pergi ke Ka'abah. beliau berdoa, "Oh Tuhan! perlihatkanlah diriMu padaku." Beliau pun berguling-guling di atas tanah dalam perjalanan itu. Terdengar suara, "Rabi'atul-adawiyyah, hati-hatilah, jika Aku perlihatkan diriKu kepadamu, kamu akan jadi abu." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku tidak berdaya memandang keagungan dan kebesaranMu, kurniakanlah kepadaku kefakiran (zahid) yang mulia di sisiMu." Terdengar lagi suara berkata, "Kamu tidak sesuai dengan itu. Kemuliaan seperti itu dikhaskan untuk lelaki yang memfanakan diri mereka semasa hidup mereka kerana Aku dan antara mereka dan Aku tidak ada regang walau sebesar rambut pun, Aku bawa orang-orang demikian sangat hampir kepadaKu dan kemudian Aku jauhkan mereka, apabila mereka berusaha untuk
mencapai Aku. Rabi'atul-adawiyyah, antara kamu dan Aku ada lagi tujuh puluh hijab atau tirai. Hijab ini mestilah dibuang dulu dan kemudian dengan hati yang suci berhadaplah kepadaKu. Sia-sia sahaja kamu meminta pangkat fakir dari Aku." Kemudian suara itu menyuruh Rabi'atul-adawiyyah melihat ke hadapan. Dilihatnya semua pandangan telah berubah. Dilihatnya perkara yang luar biasa. Di awang-awangan ternampak lautan darah yang berombak kencang. Terdengar suara lagi, "Rabi'atul-adawiyyah, inilah darah yang mengalir dari mata mereka yang mencintai Kami (Tuhan) dan tidak mahu berpisah dengan Kami. Meskipun mereka dicuba dan diduga, namun mereka tidak berganjak seinci pun dari jalan Kami dan tidak pula meminta sesuatu dari Kami. Dalam langkah permulaan dalam perjalanan itu, mereka mengatasi semua nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka beruzlah (memencilkan diri) dari dunia hingga tidak ada sesiapa yang mengetahui mereka. Begitulah mereka itu tidak mahu publisiti (disebarkan kepada umum) dalam dunia ini." Mendengar itu, Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Tuhanku! Biarkan aku tinggal di Ka'abah." Ini pun tidak diberi kepada beliau. Beliau dibenarkan kembali ke Basrah dan menghabiskan umurnya di situ dengan sembahyang dan memencilkan diri dari orang ramai.
Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah sedang duduk di rumahnya menunggu ketibaan seorang darwisy untuk makan bersamanya dengan maksud untuk melayan darwisy itu, Rabi'atul-adawiyyah meletakkan dua buku roti yang dibuatnya itu di hadapan darwisy itu. Darwisy itu terkejut kerana tidak ada lagi makanan untuk Rabi'atul-adawiyyah. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang perempuan membawa sehidang roti dan memberinya kepada Rabi'atul-adawiyyah menyatakan tuannya menyuruh dia membawa roti itu kepada Rabi'atul-adawiyyah, Rabi'atul-adawiyyah bertanya berapa ketul roti yang dibawanya itu. Perempuan itu menjawab, "Lapan belas." Rabi'atul-adawiyyah tidak mahu menerima roti itu dan disuruhnya kembalikan kepada tuannya. Perempuan itu pergi. Kemudian datang semula. Rabi'atul-adawiyyah menerima roti itu selepas diberitahu bahawa ada dua puluh ketul roti dibawa perempuan itu. Darwisy itu bertanya kenapa Rabi'atul-adawiyyah enggan menerima dan kemudian menerima pula. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Allah berfirman dalam Al-Quran iaitu : "Orang yang memberi dengan nama Allah maka Dia akan beri ganjaran sepuluh kali ganda. Oleh itu, saya terima hadiah apabila suruhan dalam Al-Quran itu dilaksanakan."
Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah sedang menyediakan makanan. Beliau teringat yang beliau tidak ada sayur. Tiba-tiba jatuh bawang dari bumbung. Disepaknya bawang itu sambil berkata, "Syaitan! Pergi jahanam dengan tipu-helahmu. Adakah Allah mempunyai kedai bawang?" Rabi'atul-adawiyyah erkata, "Aku tidak pernah meminta dari sesiapa kecuali dari Allah dan aku tidak terima sesuatu melainkan dari Allah."
Suatu hari, Hassan Al-Basri melihat Rabi'atul-adawiyyah dikelilingi oleh binatang liar yang memandangnya dengan kasih sayang. Bila Hassan Al-Basri pergi menujunya, binatang itu lari. Hassan bertanya, "Kenapa binatang itu lari?" Sebagai jawapan, Rabi'atul-adawiyyah bertanya, "Apa kamu makan hari ini?" Hassan menjawab, "Daging." Rabi'atul- adawiyyah berkata, Oleh kerana kamu makan daging, mereka pun lari, aku hanya memakan roti kering."
Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah pergi berjumpa Hassan Al-Basri. Beliau sedang menangis terisak-isak kerana bercerai (lupa) kepada Allah. Oleh kerana hebatnya tangisan beliau itu, hingga air matanya mengalir dilongkang rumahnya. Melihatkan itu, Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Janganlah tunjukkan perasaan sedemikian ini supaya batinmu penuh dengan cinta Allah dan hatimu tenggelam dalamnya dan kamu tidak akan mendapati di mana tempatnya." Dengan penuh kehendak untuk mendapat publiksiti, suatu hari, Hassan yang sedang melihat Rabi'atul-adawiyyah dalam satu perhimpunan Aulia' Allah, terus pergi bertemu dengan Rabi'atul-adawiyyah dan berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, marilah kita meninggalkan perhimpunan ini dan marilah kita duduk di atas air tasik sana dan berbincang hal-hal keruhanian di sana." Beliau berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia' Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?" Rabi'atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah." Seorang hamba Allah bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah tentang perkara kahwin. beliau menjawab, "Orang yang berkahwin itu ialah orang yang ada dirinya. Tetapi aku bukan menguasai badan dan nyawaku sendiri. Aku ini kepunyaan Tuhanku. Pintalah kepada Allah jika mahu mengahwini aku."
Hassan Al-Basri bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah bagaiman beliau mencapai taraf keruhanian yang tinggi itu. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku hilang (fana) dalam mengenang Allah." Beliau ditanya, "Dari mana kamu datang?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku datang dari Allah dan kembali kepada Allah." Rabi'atul-adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan."
Orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah, "Adakah kamu lihat Tuhan yang kamu sembah itu? Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Jika aku tidak lihat Dia, aku tidak akan menyembahNya."
Rabi'atul-adawiyyah sentiasa menangis kerana Allah. Orang bertanya kepadanya sebab beliau menangis. rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku takit berpisah walau sedetik pun dengan Tuhan dan tidak boleh hidup tanpa Dia. Aku takut Tuhan akan berkata kepadaku tatkala menghembuskan nafas terakhir - jauhkan dia dariKu kerana dia tidak layak berada di majlisKu."
Allah suka dengan hambaNya yang bersyukur apabila ia berusaha sepertimana ia bersyukur tatkala menerima kurniaNya (iaitu ia menyedari yang ia tidak sanggup berusaha untuk Allah tanpa pertolongan dan kurniaan Allah).
Seorang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah, "Adakah Allah menerima taubat orang yang membuat dosa?"
Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Itu hanya apabila Allah mengurniakan kuasaNya kepada pembuat dosa itu yang ia digesa untuk mengakui dosanya dan ingin bertaubat. Hanya dengan itu Allah akan menerima taubatnya kerana dosa yang telah dilakukannya." Salih Al-Qazwini selalu mengajar muridnya, "Siapa yang selalu mengetuk pintu rumah seseorang akhirnya satu hari pintu itu pasti akan dibuka untuknya." Satu hari Rabi'atul-adawiyyah mendengar beliau bercakap demikian. Rabi'atul-adawiyyah pun berkata kepada Salih, "Berapa lama kamu hendak berkata demikian menggunakan perkataan untuk masa depan (Futuretense) iaitu "Akan dibuka"? Adakah pintu itu pernah ditutup? Pintu itu sentiasa terbuka." Salih mengakui kebenarannya itu.
Seorang hamba Allah berteriak, "Aduh sakitnya!" Rabi'atul-adawiyyah bertemudengan orang itu dan berkata, "Oh! bukannya sakit." Orang itu bertanya kenapa beliau berkata begitu. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Kerana sakit itu adalah satu nikmat bagi orang yang sangat mulia di sisi Allah. Mereka merasa seronok menanggung sakit itu."
Suatu hari rabi'atul-adawiyyah sedang melihat orang sedang berjalan dengan kepalanya berbalut. Beliau bertanya kenapa kepalanya dibalut. Orang itu menjawab mengatakan ia sakit kepala. rabi'atul-adawiyyah bertanya, "Berapa umurmu?" Jawab orang itu, "Tiga puluh." Rabi'atul-adawiyyah bertanya lagi, "Hingga hari ini begaimana keadaanmu?" Kata orang itu, "Sihat-sihat shaja." Rabi'atul-adawiyyah pula berkata, "Selama tiga puluh tahun Allah menyihatkan kamu, tetapi kamu tidak mengibarkan bendera pada badanmu untuk menunjukkan kesyukuran kepada Allah, dan agar manusia bertanya kenapa kamu gembira sekali dan setelah mengetahui kurniaan Tuhan kepadamu, mereka akan memuji Allah. Sebaliknya kamu, setelah mendapat sakit sedikit, membalut kepalamu dan pergi ke sana ke mari menunjukkan sakitmu dan kekasaran Tuhan terhadapmu. Kenapa kamu berlaku sehina itu!"
Suatu hari khadamnya berkata, "Puan, keluarlah dan mari kita melihat keindahan kejadian Tuhan di musim bunga ini.' Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Duduklah dalam rumah seperti aku berseorangan dan melihat yang menjadikan. Aku lihat Dia dan bukan kejadianNya."
Suatu hari, orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah kenapa beliau tidak menyimpan pisau dalam rumahnya. Beliau menjawab, "Memotong itu adalah kerja pisau. Aku takut pisau itu akan memotong
pertalian aku dengan Allah yang ku cintai."
Suatu masa Rabi'atul-adawiyyah berpuasa selama lapan hari. Pada hari terakhir, beliau merasa lapar sedikit. Datang seorang hamba Allah membawa minuman yang manis dalam sebuah cawan. Rabi'atul-adawiyyah ambil minuman itu dan meletakkannya di atas lantai di satu penjuru rumahnya itu. Beliau pun pergi hendak memasang lampu. Datang seekor kucing lalu menumpahkan minuman dalam cawan itu. Melihat itu, terfikirlah Rabi'atul-adawiyyah hendak minum air sahaja malam itu. Tatkala ia hendak mencari bekas air (tempayan), lampu pun padam. Bekas air itu jatuh dan pecah airnya bertaburan di atas lantai. Rabi'atul-adawiyyah pun mengeluh sambil berkata, "Tuhanku! Kenapa Kau lakukan begini kepadaku?"
Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, jika kamu hendakkan kurnia dunia, Aku boleh berikan padamu, tetapi akan menarik balik darimu siksaan dan kesakitan yang Aku beri padamu. Kurnia dunia dan siksaan Aku tidak boleh duduk bersama-sama dalam satu hati. Rabi'atul-adawiyyah, kamu hendak satu satu perkara dan Aku hendak satu perkara lain. Dua kehendak yang berlainan tidak boleh duduk bersama dalam satu hati."
Dengan serta-merta beliau pun membuangkan kehendak kepada keperluan hidup ini, seperti orang yang telah tidak berkehendakkan lagi perkara-perkara dunia ini semasa nyawa hendak bercerai dengan badan.
Tiap-tiap pagi beliau berdoa, "Tuhan! Penuhilah masaku dengan menyembah dan mengingatMu agar orang lain tidak mengajakku dengan kerja-kerja lain."
Rabi'atul-adawiyyah ditanya, "Kenapa kamu sentiasa menangis-nangis?"
Beliau menjawab, "Kerana ubat penyakit ini ialah berdampingan dengan Tuhan."
"Kenapa kamu memakai pakainan koyak dan kotor?" Beliau ditanya lagi, "Kamu ada kawan yang kaya, dan dia boleh memberimu pakaian baru." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku berasa malu meminta perkara dunia dari sesiapa pun yang bukan milik mereka kerana perkara-perkara itu adalah amanah Allah kepada mereka dan Allah jua yang memiliki segala- galanya."
Orang berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, Tuhan mengurniakan ilmu dan kenabian kepada lelaki, dan tidak pernah kepada perempuan, tentu kamu tidak dapat mencapai pangkat kewalian yang tinggi itu (kerana perempuan). Oleh itu apakah faedahnya usaha kamu menuju ke taraf tersebut?"
Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Apa yang kamu kata itu benar, tetapi cubalah ketakan kepadaku siapakah perempuannya yang telah mencapai taraf kehampiran dengan Allah dan lalu berkata,"Akulah yang hak".
Di samping itu tidak ada orang kasi yang perempuan. Hanya didapati dalam kaum lelaki sahaja." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Seorang perempuan yang sentiasa bersembahyang kerana Allah adalah lelaki dan bukan perempuan."
Satu hari Rabi'atul-adawiyyah jatuh sakit. Orang bertanya kepadanya sebab ia sakit. Beliau berkata, "Hatiku cenderung hendak mencapai Syurga, sayu hari yang lampau. Kerana itu, Allah jatuhkan sakitini sementara sebagai hukuman."
Hassan Al-Basri datang berjumpa Rabi'atul-adawiyyah yang sedang sakit. Di pintu rumah beliau itu, Hassan bertemu dengan Amir Al-Basri yang sedang duduk dengan sebuah bag mengandungi wang. Amir itu menangis. Apabila ditanya kenapa beliau menangis, beliau menjawab, "Aku hendak menghadiahkan wang kepada Rabi'atul-adawiyyah, tetapi aku tahu dia tidak akan menerimanya.Kerana itulah aku menangis. Bolehkah kamu menjadi pengantara dan meminta dia menerima hadiahku ini?" Hassan pun pergilah membawa wang itu kepada Rabi'atul-adawiyyah dan meminta beliau menerima wang itu. Tetapi Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Oleh kerana aku telah kenal Allah, maka aku tidak lagi mahu bersembang dengan manusia dan tidak menerima hadiah dari mereka dan juga tidak mahu memberi apa-apa kepada mereka. Di samping itu aku tidak mahu sama ada wang itu didapatinya secara halal atau haram."
Sufyan Al-Thauri berkata, "Kenapa kamu tidak memohon kepada Allah untuk menyembuhkan kamu?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Kenapa aku merungut pula kerana itu hadiah Allah bagiku. Bukankah salah jika tidak mahu menerima hadiah Tuhan? Adakah bersahabat namanya jika kehendak sahabat itu tidak kita turuti?"
Malik bin Dinar pergi mengunjungi Rabi'atul-adawiyyah satu hari. Dilihatnya dalam rumah Rabi'atul-adawiyyah satu balang yang pecah dan mengandungi air untuk minum dan mengambil wuduk, satu bata sebagai bantal dan tikar yang buruk sebagai alas tempat tidur. Malik berkata, "Jika kamu izinkan, boleh aku suruh seorang kawanku yang kaya memberimu semua keperluan harian." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Adakah satu Tuhan yang menanggung aku, dan Tuhan lain pula menanggung kawanmu itu? Jika tidak, adakah Tuhan lupa kepadaku kerana aku miskin dan ingat kepada kawanmu itu kerana ia kaya? Sebenarnya Allah itu tidak lupa kepada siapa pun. Kita tidak perlu memberi ingat kepada Tuhan itu. Dia lebih mengetahui apa yang baik
untuk kita. Dia yang memberi kurnia dan Dia juga yang menahan kurnia itu."
Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Orang yang cinta kepada Allah itu hilang dalam melihat Allah hingga kesedaran kepada yang lain lenyap darinya dan Dia tidak boleh membezakan mana sakit dan mana senang."
Seorang Wali Allah datang dan merungut tentang dunia. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Nampaknya kamu sangat cinta kepada dunia, kerana orang yang bercakap tentang sesuatu perkara itu tentulah dia cenderung kepada perkara tersebut."
Satu hari, Sufyan Al-Thauri pergi berjumpa Rabi'atul-adawiyyah. Rabi'atul-adawiyyah menghabiskan masa malam itu dengan sembahyang. Apabila sampai pagi, beliau berkata, "Pujian bagi Allah yang telah memberkati kita dapat sembahyang sepanjang malam. Untuk tanda kesyukuran, marilah kita puasa pula sepanjang hari ini." Rabi'atul-adawiyyah selalu berdoa demikian, "Tuhanku! Apa sahaja yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan dunia, berikanlah kepada musuhku dan apa sahaja kebaikan yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan akhirat, berikanlah kepada orang-orang yang berIman, kerana aku hanya hendakkan Engkau kerana Engkau. Biarlah aku tidak dapat Syurga atau Neraka. Aku hendak pandangan Engkau padaku sahaja."
Sufyan Al-Thauri menghabiskan masa sepanjang malam bercakap-cakap tentang ibadat kepada Allah dengan Rabi'atul-adawiyyah. Di pagi hari Al-Thauri berkata, "Kita telah menghabiskan masa malam tadi dengan sebaik-baiknya." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Tidak, kita habiskan masa dengan sia-sia kerana sepanjang percakapan itu kamu berkata perkara-perkara yang memuaskan hatiku sahaja dan aku pula memikirkan perkara yang kamu sukai pula. Masa itu kita buang tanpa mengenang Allah. Adalah lebih baik jika aku duduk seorang diri dan menghabiskan masa malam itu dengan mengenang Allah." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Doaku padaMu ialah sepanjang hayatku berilah aku dapat mengingatMu dan apabila mati kelak berilah aku dapat memandangMu."
Lahirnya pd kurun ke2 hijrah
Dipinggiran terpencil Kota Basrah
Sejarah telah menukirkan langkahnya
Menuju Allah bermula dgn payah
Kemiskinan keluarganya terlalu mencengkam
Menjadikn dia hampir tenggelam
Dialah gadis yg bernama Rabiatul Adawiyah
Takdir mengatasi takdir
Ketika tiba-tiba pintu hidayah terbuka dia menjadi tersentak
Kembara cintanya pun bermula
Dari gelap dia menuju cahaya
Bukan kerana pahala tetapi kerana cinta
di kedinginan malam dia berkata
Tuhanku bintang-bintang telah menjelma indah
Mata manusia terlena sudah
Ketika semua pintu telah tertutup
Tatkala unggas malam sahut menyahut
Dan inilah aku..inilah aku
Duduk dihadapanMu mengadu cintaku
Yang selalu terganggu
Mengintai kasihMu diperdu rindu
Demikian rintihan hati Rabiatul Adawiyah
Lalu ditemuinya keindahan & ketenangan
Di hamparan kasih sayang Tuhan
Ya Allah...Ini air mataku yang tumpah kerana menyesali dosa
Ini sujudku yang menginsafi rasa kehambaan diri
Ini tanganku yang memohon keampunan dan rahmat-Mu
Ini wajahku yang menghadap -Mu dengan rasa kehinaan
air mataku, sujudku , tanganku dan wajahku
ini sebagai saksi diakhirat........Bahawa aku pernah
merintih keampunan daripada-Mu
Jadikanlah air mataku , sujudku ,tanganku , dan
wajahku ini sebagai pemayung ketika panas terik
di Padang Mahsyar...Sesungguhnya tidak tertanggung olehku
akannya.Jadikanlah air mataku , sujudku , tanganku ,
dan wajahku ini sebagai
pemberat ketika amalanku ditimbang. Sesungguhnya
terlalu gentar hati ini apabila
air mataku sujudku , tanganku , dan wajahku
ini sebagai
penyelamat ketika dihumban ke dalam neraka-Mu......
Sesungguhnya tiada amalanku yang layak untuk
menyelamatkan diri.
Tuhan.........Tiada amalanku yang dapat dipersembahkan sempurna
kepada-mu...kerana kebaikanku telah ditembusi
kejahatanku.Melainkan hanya ini yang yang
harapan......air mata penyesalan ,sujud seorang hamba,
tangan yang sentiasa mengharap rahmat-Mu dan wajahyang malu memandang-Mu.
Meskipun rayuan setinggi gunung,namun......kesangsian
datang di celah harapan.
Apakah air mata yang mengalir seikhlas air mata
penyesalan Nabi Adam
selamai 200 tahun
hingga bumi terbelah menjadi sungai ?
Apakah sujudku ini sehebat Uwais Al Qarni yang
merintih hingga dini hari ?
Apakah tanganku ini menadah serta bermohon
tangan Siti Mariam yang merayu ke hadrat Illahi ?Apakah wajahku yang
mengadap-Mu ini seperti RabiatulAdawiyah
yang mengadap-Mu dengan rasa kehinaan ?Semua kesangsian ini
Ya Allah
mendatangkan kegentaran
di dada untuk mengadap-Mu....Tetapi .....hanya ini yang ada padaku..
Nama ini sinonim dalam sejarah dunia . Rabi'ah binti Ismail
al-Adawiyah terkenal dalam sejarah Islam.
Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah
di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi
kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula
hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan
menggunakan sampan.
Aku tertarik dan ingin berkongsi rintihan Rabi'ah sewaktu kesunyian di
ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:
"Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada
segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada
segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!
"Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur
nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di
hadapan-Mu.
"Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran
pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan
burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada
tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan
melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan
menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.
"Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik
maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi'ah yang banyak kesalahan di
hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya
yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat
kepada-Mu."
Dan ini raungan Rabiah memohon belas ihsan Allah SWT:
"Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian
kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang
mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan.
Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang
terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang
berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab
Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa."
Setiap malam begitulah keadaan Rabi'ah. Apabila fajar menyinsing,
Rabi'ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:
"Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti.
Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya
aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan
takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau
menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika
Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak
bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu."
Seperkara menarik tentang diri Rabi'ah ialah dia menolak lamaran untuk
berkahwin dengan alasan:
"Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan.
Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik
Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun."
Rabi'ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu
dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai
tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi'ah telah
mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada
akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di
hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.
Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:
"Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada
suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu."
Antara syairnya yang masyhur berbunyi:
"Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain
Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada
penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah
ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun."
Rabi'ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai
Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk
membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman dengan
menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah
diluahkannya:
"Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang
mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut
kepada-Mu?"
Kecintaan Rabi'ah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk
beroleh syurga Allah semata-mata.
"Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka
bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak
kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku
menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan
yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha
Mulia itu."
Begitulah keadaan kehidupan Rabi'ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji
dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi'ah meninggal dunia
pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga
Allah meredainya, amin! – Haluan
Bersama ahli cerdik pandai
Rabi'atul Adawiyah merupakan salah seorang srikandi agung dalam Islam.
Beliau terkenal dengan sifat wara' dan sentiasa menjadi rujukan
golongan cerdik pandai kerana beliau tidak pernah kehabisan hujjah.
Pada suatu hari, sekumpulan golongan cerdik pandai telah datang ke
rumah Rabi'atul Adawiyah. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan
adalah untuk menguji beliau dengan pelbagai persoalan. Malah mereka
telah bersedia dengan satu persoalan yang menarik. Mereka menaruh
keyakinan yang tinggi, kerana selama ini Rabi'atul Adawiyah tidak
pernah ketandusan hujah.
"Wahai Rabi'atul Adawiyah, semua bentuk kebajikan yang tinggi-tinggi
telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum lelaki, namun tidak kepada
kaum wanita." Ketua rombongan itu memulakan bicara.
"Buktinya?" Balas Rabi'atul Adawiyah.
"Buktinya ialah, mahkota kenabian dan Rasul telah dianugerahkan kepada
kaum lelaki. Malah mahkota kebangsawanan juga dikurniakan kepada kaum
lelaki. Paling penting, tidak ada seorang wanita pun yang telah
diangkat menjadi Nabi atau Rasul, malah semuanya dari golongan
lelaki." Jawab mereka pula dengan yakin.
"Memang betul pendapat tuan-tuan sekalian. Akan tetapi harus diingat
bahawa sejahat-jahat pangkat ada pada kaum lelaki juga. Siapa yang
mengagung-agungkan diri sendiri? Siapa yang begitu berani mendakwa
dirinya sebagai Tuhan? Dan siapa pula yang berkata : "Bukankah aku ni
tuhanmu yang mulia?" Dengan tenang, Rabi'atul Adawiyah membalas hujah
mereka sambil merujuk kepada Firaun dan Namrud.
Kemudian Rabi'atul Adawiyah menambah lagi, "Anggapan dan ucapan
seperti itu tidak pernah keluar dari mulut seorang wanita. Malah
semuanya ditimpakan kepada kaum lelaki."
Dengan seorang pencuri
Suatu malam yang sunyi sepi, di kala masyarakat sedang khusyuk tidur,
seorang pencuri telah menceroboh masuk ke dalam pondok Rabi'atul
Adawiyah.
Namun setelah menyelongkar sekeliling berkali-kali, dia tidak menemui
sebarang benda berharga kecuali sebuah kendi untuk kegunaan berwuduk,
itupun telah buruk. Lantas si pencuri tergesa-gesa untuk keluar dari
pondok tersebut.
Tiba-tiba Rabi'atul Adawiyah menegur si pencuri tersebut, "Hei, jangan
keluar sebelum kamu mengambil sesuatu dari rumahku ini." Si pencuri
tersebut terperanjat kerana dia menyangka tiada penghuni di pondok
tersebut. Dia juga berasa hairan kerana baru kini dia menemui tuan
rumah yang begitu baik hati seperti Rabi'tul Adawiyah. Kebiasaannya
tuan rumah pasti akan menjerit meminta tolong apabila ada pencuri
memasuki rumahnya, namun lain pula yang berlaku.
"Sila ambil sesuatu." kata Rabiatul Adawiyah lagi kepada pencuri tersebut.
"Tiada apa-apa yang boleh aku ambil daripada rumah mu ini." kata si
pencuri berterus-terang.
"Ambillah itu!" kata Rabi'atul Adawiyah sambil menunjuk pada kendi
yang buruk tadi.
"Ini hanyalah sebuah kendi buruk yang tidak berharga." Jawab si pencuri.
"Ambil kendi itu dan bawa ke bilik air. Kemudian kamu ambil wudhu'
menggunakan kendi itu. Selepas itu solatlah 2 rakaat. Dengan demikian,
engkau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga daripada pondok
burukku ini." Balas Rabi'tul Adawiyah.
Mendengar kata-kata itu, si pencuri tadi berasa gementar. Hatinya yang
selama ini keras, menjadi lembut seperti terpukau dengan kata-kata
Rabi'tul Adawiyah itu. Lantas si pencuri mencapai kendi buruk itu dan
dibawa ke bilik air, lalu berwudhu' menggunakannya.. Kemudian dia
menunaikan solat 2 rakaat. Ternyata dia merasakan suatu kemanisan dan
kelazatan dalam jiwanya yang tak pernah dirasa sebelum ini.
Rabi'atul Adawiyah lantas berdoa, "Ya Allah, pencuri ini telah
menceroboh masuk ke rumahku. Akan tetapi dia tidak menemui sebarang
benda berharga untuk dicuri. Kemudian aku suruh dia berdiri
dihadapan-Mu. Oleh itu janganlah Engkau halang dia daripada
memperolehi nikmat dan rahmat-Mu."
Dengan seorang pemuda
Suatu hari, Rabi'atul Adawiyah terlihat seseorang sedang
berjalan-jalan dengan kepalanya berbalut sambil menagih simpati
daripada orang ramai. Kerana ingin tahu sebabnya orang itu berbuat
demikian, Rabi'atul Adawiyah bertanya, "Wahai hamba Allah! Mengapa
engkau membalut kepalamu sebegini rupa?"
"Kepalaku sakit." Jawab orang itu dengan ringkas.
"Sudah berapa lama?" Tanya Rabi'atul Adawiyah lagi.
"Sudah sekian hari." Jawabnya dengan tenang.
Lantas Rabi'atul Adawiyah bertanya lagi,"Berapa usiamu sekarang?"
Orang itu menjawab,"Sudah 30 tahun"
"Bagaimana keadaanmu selama 30 tahun itu?" Tanya beliau lagi.
"Alhamdulillah, sihat-sihat saja." Jawabnya.
"Apakah kamu memasang sebarang tanda di badanmu bahawa kamu sihat
selama ini?" Tanya Rabi'atul Adawiyah.
"Tidak." Jawab orang itu ragu-ragu.
"Masya Allah, selama 30 tahun Allah telah menyihatkan tubuh badanmu,
tetapi kamu langsung tidak memasang sebarang tanda bagi menunjukkan
kamu sihat sebagai tanda bersyukur kepada Allah. Jika sebaliknya,
pasti manusia akan bertanya kepada kamu sebabnya kamu sangat gembira.
Apabila mereka mengetahui nikmat Allah kepadamu, diharapkan mereka
akan bersyukur dan memuji Allah." Jelas Rabi'atul Adawiyah.
"Akan tetapi, kini apabila kamu mendapat sakit sedikit, kamu balut
kepalamu dan kemudian pergi ke sana sini bagi menunjukkan sakitmu dan
kekasaran Allah terhadapmu kepada orang ramai, Mengapa kamu berbuat
hina seperti itu?" Sambung Rabi'atul Adawiyah lagi.
Orang yang berbalut kepalanya itu hanya diam seribu bahasa dan
tertunduk malu denga perlakuannya. Kemudian dia beredar meninggalkan
Rabi'atul Adawiyah dengan perasaan kesal dan insaf.
Kata kata mutiara rabiatul adawiyah
" Biar waktu yang akan membuktikan .......
bahwa tiap langkah yang telah dipijakkan,
tiap tetesan darah dan keringat yang telah dialirkan,
tiap jiwa yang telah melayang,
akan samapai pada satu keadaan .......
dimana keadilan adalah nadinya,
kesejahteraan adalah nafasnya,
kebijaksanaan adalah sifatnya,
dan Ridho Sang Khalik adalah tujuannya. "
" Tuhanku, apa-apa saja yang hendak kau berikan kepadaku di dunia ini
maka berikanlah kepada musuh-musuh MU.
Serta apa-apa saja yang hendak kau berikan kepada ku di akhirat kelak,
maka berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu.
Sebab engkau saja cukuplah bagiku "
(Rhobiyatul Al-Adawiyah)
Posted by Rockbebeh at 9:30 PM
Labels: Tanbihul Ghafilin (Peringatan bagi yang lupa)
Newer Post Older Post
sama seperti yang dialami oleh iman al ghazali boleh berbicara dengan malaikat hingga diajar Allah ilmu ilmu untuk akhirat melalui malaikat. barulah aku faham maksud Allah didalam quran "bahwa Allah akan menunjuk dan membimbing sesiapa yang dikehendakinya" bermaksud mereka yang ikhlas dan cintakan Allah dan rasulnya... buktinya.... lihat kisah ini , iman al ghazali dan kisah diluar negara seorang budak yang dilahirkan dari perut org kristien yang pandai solat 5 waktu dan pandai membaca quran serta berceramah kepada umum supaya mengikuti ajaran rasulullah s.a.w, INI SEMUA BUKTI YANG ALLAH TERAMAT CINTAKAN HAMBANYA CUMA HAMBANYA SAHAJA YANG TIDAK MAHU MENCARI TUHANNYA. dan ada kisah yang pelik pelik yang ditunjukkan Allah namun kebenaran memang manusia tidak akan menerimanya... contohnya di ---> sini <---- dan di ---> sini <---- semuanya telah ditunjukkan Allah.. dan memang benarlah firman Allah jika quran boleh membuatkan gunung berkata kata sekalipun manusia tidak akan beriman dengan sebenar benarnya dan boleh dikatakan manusia tertutup hatinya dan akalnya oleh syaitan walaupun mereka berkata syaitan tidak boleh mendampinginya.... cara paling mudah adalah.... jika seseorang menunjukkan satu ajaran... sila tengok dan pastikan dengan betulnya bahawa ianya mesti berdasarkan al-quran dan sunnah rasulullah.... jika tidak tolak sahaja ajarannya... agar tidak merosakkan aqidah manusia dan agar tidk menangia diakhirat nanti. Ibubapa Rabia'atul-adawiyyah adalah orang miskin. Hinggakan dalam rumah mereka tidak ada minyak untuk memasang lampu dan tidak ada kain untuk membalut badan beliau. Beliau ialah anak yang keempat. Ibunya menyuruh ayahnya meminjam minyak dari jiran. tetapi bapa beliau telah membuat keputusan tidak akan meminta kepada sesiapa kecuali kepada Allah. Bapa itu pun pergilah berpura-pura ke rumah jiran dan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu agar tidak didengar oleh orang dalam rumah itu. Kemudian dia pun pulang dengan tangan kosong. Katanya orang dalam rumah itu tidak mahu membuka pintu. Pada malam itu si bapa bermimpi yang ia bertemu dengan Nabi. Nabi berkata kepadanya, "Anak perempuanmu yang baru lahir itu adalah seorang yang dikasihi Allah dan akan memimpin banyak orang Islam ke jalan yang benar. Kamu hendaklah pergi berjumpa amir Basrah dan beri dia sepucuk surat yang bertulis - kamu hendaklah berselawat kepada Nabi seratus kali tiap-tiap malam dan empat ratus kali tiap-tiap malam Jumaat. Tetapi oleh kerana kamu tidak menmatuhi peraturan pada hari Khamis sudah, maka sebagai dendanya kamu hendaklah membayar kepada pembawa surat ini empat ratus dinar."
Bapa Rabi'atul-adawiyyah pun terus jaga dari tidur dan pergi berjumpa dengan amir tersebut, dengan air mata kesukaan mengalir di pipinya. Amir sungguh berasa gembira membaca surat itu dan faham bahawa beliau ada dalam perhatian Nabi. Amir pun memberi sedekah kepada fakir miskin sebanyak seribu dinar dan dengan gembira memberi bapa Rabi'atul-adawiyyah sebanyak empat ratus dinar. Amir itu meminta supaya bapa Rabi'atul-adawiyyah selalu mengunjungi beliau apabila hendakkan sesuatu kerana beliau sungguh berasa bertuah dengan kedatangan orang yang hampir dengan Allah. Selepas bapanya meninggal dunia, Basrah dilanda oleh kebuluran. Rabi'atul-adawiyyah berpisah dari adik-beradiknya. Suatu ketika kafilah yang beliau tumpangi itu telah diserang oleh penyamun. Ketua penyamun itu menangkap Rabi'atul-adawiyyah untuk dijadikan barang rampasan untuk dijual ke pasar sebagai abdi. Maka lepaslah ia ke tangan tuan yang baru.
Suatu hari, tatkala beliau pergi ke satu tempat atas suruhan tuannya, beliau telah dikejar oleh orang jahat. beliau lari. Tetapi malang, kakinya tergelincir dan jatuh. Tangannya patah. Beliau berdoa kepada Allah, "Ya Allah! Aku ini orang yatim dan abdi. Sekarang tanganku pula patah. tetapi aku tidak peduli segala itu asalkan Kau rida denganku. tetapi nyatakanlah keridaanMu itu padaku." Tatkala itu terdengarlah suatu suara malaikat, "Tak mengapa semua penderitaanmu itu. Di hari akhirat kelak kamu akan ditempatkan di peringkat yang tinggi hinggakan Malaikat pun kehairanan melihatmu." Kemudian pergilah ia semula kepada tuannya. Selepas peristiwa itu, tiap-tiap malam ia menghabiskan masa dengan beribadat kepada Allah, selepas melakukan kerja-kerjanya. Beliau berpuasa berhari-hari.
Suatu hari, tuannya terdengar suara rayuan Rabi'atul-adawiyyah di tengah malam yang berdoa kepada Allah : "Tuhanku! Engkau lebih tahu bagaimana aku cenderung benar hendak melakukan perintah-perintahMu dan menghambakan diriku dengan sepenuh jiwa, wahai cahaya mataku. Jikalau aku bebas, aku habiskan seluruh masa malam dan siang dengan melakukan ibadat kepadaMu. tetapi apa yang boleh aku buat kerana Kau jadikan aku hamba kepada manusia."
Dilihat oleh tuannya itu suatu pelita yang bercahaya terang tergantung di awang-awangan, dalam bilik
Rabi'atul-adawiyyah itu, dan cahaya itu meliputi seluruh biliknya. Sebentar itu juga tuannya berasa adalah berdosa jika tidak membebaskan orang yang begitu hampir dengan Tuhannya. sebaliknya tuan itu pula ingin menjadi khadam kepada Rabi'atul-adawiyyah.
Esoknya, Rabi'atul-adawiyyah pun dipanggil oleh tuannya dan diberitahunya tentang keputusannya hendak menjadi khadam itu dan Rabi'atul-adawiyyah bolehlah menjadi tuan rumah atau pun jika ia tidak sudi bolehlah ia meninggalkan rumah itu. Rabi'atul-adawiyyah berkata bahawa ia ingin mengasingkan dirinya dan meninggalkan rumah itu. Tuannya bersetuju. Rabi'atul-adawiyyah pun pergi.
Suatu masa Rabi'atul-adawiyyah pergi naik haji ke Mekkah. Dibawanya barang-barangnya atas seekor keldai yang telah tua. Keldai itu mati di tengah jalan. Rakan-rakannya bersetuju hendak membawa barang -barangnya itu tetapi beliau enggan kerana katanya dia naik haji bukan di bawah perlindungan sesiapa. Hanya perlindungan Allah S.W.T. Beliau pun tinggal seorang diri di situ. Rabi'atul-adawiyyah terus berdoa, "Oh Tuhan sekalian alam, aku ini keseorangan, lemah dan tidak berdaya. Engkau juga yang menyuruhku pergi mengunjungi Ka'abah dan sekarang Engkau matikan keldaikudan membiarkan aku keseorangan di tengah jalan." Serta-merta dengan tidak disangka-sangka keldai itu pun hidup semula. Diletaknya barang-barangnya di atas keldai itu dan terus menuju Mekkah. Apabila hampir ke Ka'abah, beliau pun duduk dan berdoa, "Aku ini hanya sekepal tanah dan Ka'abah itu rumah yang kuat. Maksudku ialah Engkau temui aku sebarang perantaraan." Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, patutkah Aku tunggangbalikkan dunia ini kerana mu agar darah semua makhluk ini direkodkan dalam namamu dalam suratan takdir? Tidakkah kamu tahu Nabi Musa pun ada hendak melihatKu? Aku sinarkan cahayaKu sedikit sahaja dan dia jatuh pengsan dan Gunung Sinai runtuh menjadi tanah hitam." Suatu ketika yang lain, semasa Rabi'atul-adawiyyah menuju Ka'abah dan sedang melalui hutan, dilihatnya Ka'abah datang mempelawanya. Melihatkan itu, beliau berkata, "Apa hendakku buat dengan Ka'abah ini; aku hendak bertemu dengan tuan Ka'abah (Allah) itu sendiri. Bukankah Allah juga berfirman iaitu orang yang selangkah menuju Dia, maka Dia akan menuju orang itu dengan tujuh langkah? Aku tidak mahu hanya melihat Ka'abah, aku mahu Allah."
Pada masa itu juga, Ibrahim Adham sedang dalam perjalanan ke Ka'abah. Sudah menjadi amalan beliau mengerjakan sembahyang pada setiap langkah dalam perjalanan itu.
Maka oleh itu, beliau mengambil masa empat belas tahun baru sampai ke Ka'bah. Apabila sampai didapatinya Ka'abah tidak ada. Beliau sangat merasa hampa. Terdengar olehnya satu suara yang berkata, "Ka'abah itu telah pergi melawat Rabi'atul -adawiyyah." Apabila Ka'bah itu telah kembali ke tempatnya dan Rabi'atul-adawiyyah sedang menongkat badannya yang tua itu kepada kepada tongkatnya, maka Ibrahim Adham pun pergi bertemu dengan Rabi'atul-adawiyyah dan berkata "Rabi'atul-adawiyyah, kenapa kamu dengan perbuatanmu yang yang ganjil itu membuat haru-biru di dunia ini?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Saya tidak membuat satu apa pun sedemikian itu, tetapi kamu dengan sikap ria (untul mendapat publisiti) pergi ke Ka'abah mengambil masa empat belas tahun." Ibrahim mengaku yang ia sembahyang setiap langkah dalam perjalanannya. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Kamu isi perjalananmu itu dengan sembahyang,tetapi aku mengisinya dengan perasaan tawaduk dan khusyuk." Tahun kemudiannya, lagi sekali Rabi'atul-adawiyyah pergi ke Ka'abah. beliau berdoa, "Oh Tuhan! perlihatkanlah diriMu padaku." Beliau pun berguling-guling di atas tanah dalam perjalanan itu. Terdengar suara, "Rabi'atul-adawiyyah, hati-hatilah, jika Aku perlihatkan diriKu kepadamu, kamu akan jadi abu." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku tidak berdaya memandang keagungan dan kebesaranMu, kurniakanlah kepadaku kefakiran (zahid) yang mulia di sisiMu." Terdengar lagi suara berkata, "Kamu tidak sesuai dengan itu. Kemuliaan seperti itu dikhaskan untuk lelaki yang memfanakan diri mereka semasa hidup mereka kerana Aku dan antara mereka dan Aku tidak ada regang walau sebesar rambut pun, Aku bawa orang-orang demikian sangat hampir kepadaKu dan kemudian Aku jauhkan mereka, apabila mereka berusaha untuk
mencapai Aku. Rabi'atul-adawiyyah, antara kamu dan Aku ada lagi tujuh puluh hijab atau tirai. Hijab ini mestilah dibuang dulu dan kemudian dengan hati yang suci berhadaplah kepadaKu. Sia-sia sahaja kamu meminta pangkat fakir dari Aku." Kemudian suara itu menyuruh Rabi'atul-adawiyyah melihat ke hadapan. Dilihatnya semua pandangan telah berubah. Dilihatnya perkara yang luar biasa. Di awang-awangan ternampak lautan darah yang berombak kencang. Terdengar suara lagi, "Rabi'atul-adawiyyah, inilah darah yang mengalir dari mata mereka yang mencintai Kami (Tuhan) dan tidak mahu berpisah dengan Kami. Meskipun mereka dicuba dan diduga, namun mereka tidak berganjak seinci pun dari jalan Kami dan tidak pula meminta sesuatu dari Kami. Dalam langkah permulaan dalam perjalanan itu, mereka mengatasi semua nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka beruzlah (memencilkan diri) dari dunia hingga tidak ada sesiapa yang mengetahui mereka. Begitulah mereka itu tidak mahu publisiti (disebarkan kepada umum) dalam dunia ini." Mendengar itu, Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Tuhanku! Biarkan aku tinggal di Ka'abah." Ini pun tidak diberi kepada beliau. Beliau dibenarkan kembali ke Basrah dan menghabiskan umurnya di situ dengan sembahyang dan memencilkan diri dari orang ramai.
Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah sedang duduk di rumahnya menunggu ketibaan seorang darwisy untuk makan bersamanya dengan maksud untuk melayan darwisy itu, Rabi'atul-adawiyyah meletakkan dua buku roti yang dibuatnya itu di hadapan darwisy itu. Darwisy itu terkejut kerana tidak ada lagi makanan untuk Rabi'atul-adawiyyah. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang perempuan membawa sehidang roti dan memberinya kepada Rabi'atul-adawiyyah menyatakan tuannya menyuruh dia membawa roti itu kepada Rabi'atul-adawiyyah, Rabi'atul-adawiyyah bertanya berapa ketul roti yang dibawanya itu. Perempuan itu menjawab, "Lapan belas." Rabi'atul-adawiyyah tidak mahu menerima roti itu dan disuruhnya kembalikan kepada tuannya. Perempuan itu pergi. Kemudian datang semula. Rabi'atul-adawiyyah menerima roti itu selepas diberitahu bahawa ada dua puluh ketul roti dibawa perempuan itu. Darwisy itu bertanya kenapa Rabi'atul-adawiyyah enggan menerima dan kemudian menerima pula. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Allah berfirman dalam Al-Quran iaitu : "Orang yang memberi dengan nama Allah maka Dia akan beri ganjaran sepuluh kali ganda. Oleh itu, saya terima hadiah apabila suruhan dalam Al-Quran itu dilaksanakan."
Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah sedang menyediakan makanan. Beliau teringat yang beliau tidak ada sayur. Tiba-tiba jatuh bawang dari bumbung. Disepaknya bawang itu sambil berkata, "Syaitan! Pergi jahanam dengan tipu-helahmu. Adakah Allah mempunyai kedai bawang?" Rabi'atul-adawiyyah erkata, "Aku tidak pernah meminta dari sesiapa kecuali dari Allah dan aku tidak terima sesuatu melainkan dari Allah."
Suatu hari, Hassan Al-Basri melihat Rabi'atul-adawiyyah dikelilingi oleh binatang liar yang memandangnya dengan kasih sayang. Bila Hassan Al-Basri pergi menujunya, binatang itu lari. Hassan bertanya, "Kenapa binatang itu lari?" Sebagai jawapan, Rabi'atul-adawiyyah bertanya, "Apa kamu makan hari ini?" Hassan menjawab, "Daging." Rabi'atul- adawiyyah berkata, Oleh kerana kamu makan daging, mereka pun lari, aku hanya memakan roti kering."
Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah pergi berjumpa Hassan Al-Basri. Beliau sedang menangis terisak-isak kerana bercerai (lupa) kepada Allah. Oleh kerana hebatnya tangisan beliau itu, hingga air matanya mengalir dilongkang rumahnya. Melihatkan itu, Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Janganlah tunjukkan perasaan sedemikian ini supaya batinmu penuh dengan cinta Allah dan hatimu tenggelam dalamnya dan kamu tidak akan mendapati di mana tempatnya." Dengan penuh kehendak untuk mendapat publiksiti, suatu hari, Hassan yang sedang melihat Rabi'atul-adawiyyah dalam satu perhimpunan Aulia' Allah, terus pergi bertemu dengan Rabi'atul-adawiyyah dan berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, marilah kita meninggalkan perhimpunan ini dan marilah kita duduk di atas air tasik sana dan berbincang hal-hal keruhanian di sana." Beliau berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia' Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?" Rabi'atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah." Seorang hamba Allah bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah tentang perkara kahwin. beliau menjawab, "Orang yang berkahwin itu ialah orang yang ada dirinya. Tetapi aku bukan menguasai badan dan nyawaku sendiri. Aku ini kepunyaan Tuhanku. Pintalah kepada Allah jika mahu mengahwini aku."
Hassan Al-Basri bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah bagaiman beliau mencapai taraf keruhanian yang tinggi itu. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku hilang (fana) dalam mengenang Allah." Beliau ditanya, "Dari mana kamu datang?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku datang dari Allah dan kembali kepada Allah." Rabi'atul-adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan."
Orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah, "Adakah kamu lihat Tuhan yang kamu sembah itu? Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Jika aku tidak lihat Dia, aku tidak akan menyembahNya."
Rabi'atul-adawiyyah sentiasa menangis kerana Allah. Orang bertanya kepadanya sebab beliau menangis. rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku takit berpisah walau sedetik pun dengan Tuhan dan tidak boleh hidup tanpa Dia. Aku takut Tuhan akan berkata kepadaku tatkala menghembuskan nafas terakhir - jauhkan dia dariKu kerana dia tidak layak berada di majlisKu."
Allah suka dengan hambaNya yang bersyukur apabila ia berusaha sepertimana ia bersyukur tatkala menerima kurniaNya (iaitu ia menyedari yang ia tidak sanggup berusaha untuk Allah tanpa pertolongan dan kurniaan Allah).
Seorang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah, "Adakah Allah menerima taubat orang yang membuat dosa?"
Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Itu hanya apabila Allah mengurniakan kuasaNya kepada pembuat dosa itu yang ia digesa untuk mengakui dosanya dan ingin bertaubat. Hanya dengan itu Allah akan menerima taubatnya kerana dosa yang telah dilakukannya." Salih Al-Qazwini selalu mengajar muridnya, "Siapa yang selalu mengetuk pintu rumah seseorang akhirnya satu hari pintu itu pasti akan dibuka untuknya." Satu hari Rabi'atul-adawiyyah mendengar beliau bercakap demikian. Rabi'atul-adawiyyah pun berkata kepada Salih, "Berapa lama kamu hendak berkata demikian menggunakan perkataan untuk masa depan (Futuretense) iaitu "Akan dibuka"? Adakah pintu itu pernah ditutup? Pintu itu sentiasa terbuka." Salih mengakui kebenarannya itu.
Seorang hamba Allah berteriak, "Aduh sakitnya!" Rabi'atul-adawiyyah bertemudengan orang itu dan berkata, "Oh! bukannya sakit." Orang itu bertanya kenapa beliau berkata begitu. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Kerana sakit itu adalah satu nikmat bagi orang yang sangat mulia di sisi Allah. Mereka merasa seronok menanggung sakit itu."
Suatu hari rabi'atul-adawiyyah sedang melihat orang sedang berjalan dengan kepalanya berbalut. Beliau bertanya kenapa kepalanya dibalut. Orang itu menjawab mengatakan ia sakit kepala. rabi'atul-adawiyyah bertanya, "Berapa umurmu?" Jawab orang itu, "Tiga puluh." Rabi'atul-adawiyyah bertanya lagi, "Hingga hari ini begaimana keadaanmu?" Kata orang itu, "Sihat-sihat shaja." Rabi'atul-adawiyyah pula berkata, "Selama tiga puluh tahun Allah menyihatkan kamu, tetapi kamu tidak mengibarkan bendera pada badanmu untuk menunjukkan kesyukuran kepada Allah, dan agar manusia bertanya kenapa kamu gembira sekali dan setelah mengetahui kurniaan Tuhan kepadamu, mereka akan memuji Allah. Sebaliknya kamu, setelah mendapat sakit sedikit, membalut kepalamu dan pergi ke sana ke mari menunjukkan sakitmu dan kekasaran Tuhan terhadapmu. Kenapa kamu berlaku sehina itu!"
Suatu hari khadamnya berkata, "Puan, keluarlah dan mari kita melihat keindahan kejadian Tuhan di musim bunga ini.' Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Duduklah dalam rumah seperti aku berseorangan dan melihat yang menjadikan. Aku lihat Dia dan bukan kejadianNya."
Suatu hari, orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah kenapa beliau tidak menyimpan pisau dalam rumahnya. Beliau menjawab, "Memotong itu adalah kerja pisau. Aku takut pisau itu akan memotong
pertalian aku dengan Allah yang ku cintai."
Suatu masa Rabi'atul-adawiyyah berpuasa selama lapan hari. Pada hari terakhir, beliau merasa lapar sedikit. Datang seorang hamba Allah membawa minuman yang manis dalam sebuah cawan. Rabi'atul-adawiyyah ambil minuman itu dan meletakkannya di atas lantai di satu penjuru rumahnya itu. Beliau pun pergi hendak memasang lampu. Datang seekor kucing lalu menumpahkan minuman dalam cawan itu. Melihat itu, terfikirlah Rabi'atul-adawiyyah hendak minum air sahaja malam itu. Tatkala ia hendak mencari bekas air (tempayan), lampu pun padam. Bekas air itu jatuh dan pecah airnya bertaburan di atas lantai. Rabi'atul-adawiyyah pun mengeluh sambil berkata, "Tuhanku! Kenapa Kau lakukan begini kepadaku?"
Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, jika kamu hendakkan kurnia dunia, Aku boleh berikan padamu, tetapi akan menarik balik darimu siksaan dan kesakitan yang Aku beri padamu. Kurnia dunia dan siksaan Aku tidak boleh duduk bersama-sama dalam satu hati. Rabi'atul-adawiyyah, kamu hendak satu satu perkara dan Aku hendak satu perkara lain. Dua kehendak yang berlainan tidak boleh duduk bersama dalam satu hati."
Dengan serta-merta beliau pun membuangkan kehendak kepada keperluan hidup ini, seperti orang yang telah tidak berkehendakkan lagi perkara-perkara dunia ini semasa nyawa hendak bercerai dengan badan.
Tiap-tiap pagi beliau berdoa, "Tuhan! Penuhilah masaku dengan menyembah dan mengingatMu agar orang lain tidak mengajakku dengan kerja-kerja lain."
Rabi'atul-adawiyyah ditanya, "Kenapa kamu sentiasa menangis-nangis?"
Beliau menjawab, "Kerana ubat penyakit ini ialah berdampingan dengan Tuhan."
"Kenapa kamu memakai pakainan koyak dan kotor?" Beliau ditanya lagi, "Kamu ada kawan yang kaya, dan dia boleh memberimu pakaian baru." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku berasa malu meminta perkara dunia dari sesiapa pun yang bukan milik mereka kerana perkara-perkara itu adalah amanah Allah kepada mereka dan Allah jua yang memiliki segala- galanya."
Orang berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, Tuhan mengurniakan ilmu dan kenabian kepada lelaki, dan tidak pernah kepada perempuan, tentu kamu tidak dapat mencapai pangkat kewalian yang tinggi itu (kerana perempuan). Oleh itu apakah faedahnya usaha kamu menuju ke taraf tersebut?"
Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Apa yang kamu kata itu benar, tetapi cubalah ketakan kepadaku siapakah perempuannya yang telah mencapai taraf kehampiran dengan Allah dan lalu berkata,"Akulah yang hak".
Di samping itu tidak ada orang kasi yang perempuan. Hanya didapati dalam kaum lelaki sahaja." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Seorang perempuan yang sentiasa bersembahyang kerana Allah adalah lelaki dan bukan perempuan."
Satu hari Rabi'atul-adawiyyah jatuh sakit. Orang bertanya kepadanya sebab ia sakit. Beliau berkata, "Hatiku cenderung hendak mencapai Syurga, sayu hari yang lampau. Kerana itu, Allah jatuhkan sakitini sementara sebagai hukuman."
Hassan Al-Basri datang berjumpa Rabi'atul-adawiyyah yang sedang sakit. Di pintu rumah beliau itu, Hassan bertemu dengan Amir Al-Basri yang sedang duduk dengan sebuah bag mengandungi wang. Amir itu menangis. Apabila ditanya kenapa beliau menangis, beliau menjawab, "Aku hendak menghadiahkan wang kepada Rabi'atul-adawiyyah, tetapi aku tahu dia tidak akan menerimanya.Kerana itulah aku menangis. Bolehkah kamu menjadi pengantara dan meminta dia menerima hadiahku ini?" Hassan pun pergilah membawa wang itu kepada Rabi'atul-adawiyyah dan meminta beliau menerima wang itu. Tetapi Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Oleh kerana aku telah kenal Allah, maka aku tidak lagi mahu bersembang dengan manusia dan tidak menerima hadiah dari mereka dan juga tidak mahu memberi apa-apa kepada mereka. Di samping itu aku tidak mahu sama ada wang itu didapatinya secara halal atau haram."
Sufyan Al-Thauri berkata, "Kenapa kamu tidak memohon kepada Allah untuk menyembuhkan kamu?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Kenapa aku merungut pula kerana itu hadiah Allah bagiku. Bukankah salah jika tidak mahu menerima hadiah Tuhan? Adakah bersahabat namanya jika kehendak sahabat itu tidak kita turuti?"
Malik bin Dinar pergi mengunjungi Rabi'atul-adawiyyah satu hari. Dilihatnya dalam rumah Rabi'atul-adawiyyah satu balang yang pecah dan mengandungi air untuk minum dan mengambil wuduk, satu bata sebagai bantal dan tikar yang buruk sebagai alas tempat tidur. Malik berkata, "Jika kamu izinkan, boleh aku suruh seorang kawanku yang kaya memberimu semua keperluan harian." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Adakah satu Tuhan yang menanggung aku, dan Tuhan lain pula menanggung kawanmu itu? Jika tidak, adakah Tuhan lupa kepadaku kerana aku miskin dan ingat kepada kawanmu itu kerana ia kaya? Sebenarnya Allah itu tidak lupa kepada siapa pun. Kita tidak perlu memberi ingat kepada Tuhan itu. Dia lebih mengetahui apa yang baik
untuk kita. Dia yang memberi kurnia dan Dia juga yang menahan kurnia itu."
Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Orang yang cinta kepada Allah itu hilang dalam melihat Allah hingga kesedaran kepada yang lain lenyap darinya dan Dia tidak boleh membezakan mana sakit dan mana senang."
Seorang Wali Allah datang dan merungut tentang dunia. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Nampaknya kamu sangat cinta kepada dunia, kerana orang yang bercakap tentang sesuatu perkara itu tentulah dia cenderung kepada perkara tersebut."
Satu hari, Sufyan Al-Thauri pergi berjumpa Rabi'atul-adawiyyah. Rabi'atul-adawiyyah menghabiskan masa malam itu dengan sembahyang. Apabila sampai pagi, beliau berkata, "Pujian bagi Allah yang telah memberkati kita dapat sembahyang sepanjang malam. Untuk tanda kesyukuran, marilah kita puasa pula sepanjang hari ini." Rabi'atul-adawiyyah selalu berdoa demikian, "Tuhanku! Apa sahaja yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan dunia, berikanlah kepada musuhku dan apa sahaja kebaikan yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan akhirat, berikanlah kepada orang-orang yang berIman, kerana aku hanya hendakkan Engkau kerana Engkau. Biarlah aku tidak dapat Syurga atau Neraka. Aku hendak pandangan Engkau padaku sahaja."
Sufyan Al-Thauri menghabiskan masa sepanjang malam bercakap-cakap tentang ibadat kepada Allah dengan Rabi'atul-adawiyyah. Di pagi hari Al-Thauri berkata, "Kita telah menghabiskan masa malam tadi dengan sebaik-baiknya." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Tidak, kita habiskan masa dengan sia-sia kerana sepanjang percakapan itu kamu berkata perkara-perkara yang memuaskan hatiku sahaja dan aku pula memikirkan perkara yang kamu sukai pula. Masa itu kita buang tanpa mengenang Allah. Adalah lebih baik jika aku duduk seorang diri dan menghabiskan masa malam itu dengan mengenang Allah." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Doaku padaMu ialah sepanjang hayatku berilah aku dapat mengingatMu dan apabila mati kelak berilah aku dapat memandangMu."
Lahirnya pd kurun ke2 hijrah
Dipinggiran terpencil Kota Basrah
Sejarah telah menukirkan langkahnya
Menuju Allah bermula dgn payah
Kemiskinan keluarganya terlalu mencengkam
Menjadikn dia hampir tenggelam
Dialah gadis yg bernama Rabiatul Adawiyah
Takdir mengatasi takdir
Ketika tiba-tiba pintu hidayah terbuka dia menjadi tersentak
Kembara cintanya pun bermula
Dari gelap dia menuju cahaya
Bukan kerana pahala tetapi kerana cinta
di kedinginan malam dia berkata
Tuhanku bintang-bintang telah menjelma indah
Mata manusia terlena sudah
Ketika semua pintu telah tertutup
Tatkala unggas malam sahut menyahut
Dan inilah aku..inilah aku
Duduk dihadapanMu mengadu cintaku
Yang selalu terganggu
Mengintai kasihMu diperdu rindu
Demikian rintihan hati Rabiatul Adawiyah
Lalu ditemuinya keindahan & ketenangan
Di hamparan kasih sayang Tuhan
Ya Allah...Ini air mataku yang tumpah kerana menyesali dosa
Ini sujudku yang menginsafi rasa kehambaan diri
Ini tanganku yang memohon keampunan dan rahmat-Mu
Ini wajahku yang menghadap -Mu dengan rasa kehinaan
air mataku, sujudku , tanganku dan wajahku
ini sebagai saksi diakhirat........Bahawa aku pernah
merintih keampunan daripada-Mu
Jadikanlah air mataku , sujudku ,tanganku , dan
wajahku ini sebagai pemayung ketika panas terik
di Padang Mahsyar...Sesungguhnya tidak tertanggung olehku
akannya.Jadikanlah air mataku , sujudku , tanganku ,
dan wajahku ini sebagai
pemberat ketika amalanku ditimbang. Sesungguhnya
terlalu gentar hati ini apabila
air mataku sujudku , tanganku , dan wajahku
ini sebagai
penyelamat ketika dihumban ke dalam neraka-Mu......
Sesungguhnya tiada amalanku yang layak untuk
menyelamatkan diri.
Tuhan.........Tiada amalanku yang dapat dipersembahkan sempurna
kepada-mu...kerana kebaikanku telah ditembusi
kejahatanku.Melainkan hanya ini yang yang
harapan......air mata penyesalan ,sujud seorang hamba,
tangan yang sentiasa mengharap rahmat-Mu dan wajahyang malu memandang-Mu.
Meskipun rayuan setinggi gunung,namun......kesangsian
datang di celah harapan.
Apakah air mata yang mengalir seikhlas air mata
penyesalan Nabi Adam
selamai 200 tahun
hingga bumi terbelah menjadi sungai ?
Apakah sujudku ini sehebat Uwais Al Qarni yang
merintih hingga dini hari ?
Apakah tanganku ini menadah serta bermohon
tangan Siti Mariam yang merayu ke hadrat Illahi ?Apakah wajahku yang
mengadap-Mu ini seperti RabiatulAdawiyah
yang mengadap-Mu dengan rasa kehinaan ?Semua kesangsian ini
Ya Allah
mendatangkan kegentaran
di dada untuk mengadap-Mu....Tetapi .....hanya ini yang ada padaku..
Nama ini sinonim dalam sejarah dunia . Rabi'ah binti Ismail
al-Adawiyah terkenal dalam sejarah Islam.
Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah
di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi
kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula
hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan
menggunakan sampan.
Aku tertarik dan ingin berkongsi rintihan Rabi'ah sewaktu kesunyian di
ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:
"Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada
segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada
segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!
"Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur
nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di
hadapan-Mu.
"Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran
pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan
burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada
tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan
melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan
menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.
"Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik
maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi'ah yang banyak kesalahan di
hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya
yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat
kepada-Mu."
Dan ini raungan Rabiah memohon belas ihsan Allah SWT:
"Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian
kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang
mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan.
Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang
terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang
berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab
Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa."
Setiap malam begitulah keadaan Rabi'ah. Apabila fajar menyinsing,
Rabi'ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:
"Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti.
Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya
aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan
takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau
menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika
Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak
bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu."
Seperkara menarik tentang diri Rabi'ah ialah dia menolak lamaran untuk
berkahwin dengan alasan:
"Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan.
Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik
Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun."
Rabi'ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu
dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai
tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi'ah telah
mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada
akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di
hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.
Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:
"Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada
suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu."
Antara syairnya yang masyhur berbunyi:
"Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain
Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada
penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah
ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun."
Rabi'ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai
Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk
membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman dengan
menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah
diluahkannya:
"Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang
mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut
kepada-Mu?"
Kecintaan Rabi'ah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk
beroleh syurga Allah semata-mata.
"Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka
bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak
kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku
menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan
yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha
Mulia itu."
Begitulah keadaan kehidupan Rabi'ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji
dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi'ah meninggal dunia
pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga
Allah meredainya, amin! – Haluan
Bersama ahli cerdik pandai
Rabi'atul Adawiyah merupakan salah seorang srikandi agung dalam Islam.
Beliau terkenal dengan sifat wara' dan sentiasa menjadi rujukan
golongan cerdik pandai kerana beliau tidak pernah kehabisan hujjah.
Pada suatu hari, sekumpulan golongan cerdik pandai telah datang ke
rumah Rabi'atul Adawiyah. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan
adalah untuk menguji beliau dengan pelbagai persoalan. Malah mereka
telah bersedia dengan satu persoalan yang menarik. Mereka menaruh
keyakinan yang tinggi, kerana selama ini Rabi'atul Adawiyah tidak
pernah ketandusan hujah.
"Wahai Rabi'atul Adawiyah, semua bentuk kebajikan yang tinggi-tinggi
telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum lelaki, namun tidak kepada
kaum wanita." Ketua rombongan itu memulakan bicara.
"Buktinya?" Balas Rabi'atul Adawiyah.
"Buktinya ialah, mahkota kenabian dan Rasul telah dianugerahkan kepada
kaum lelaki. Malah mahkota kebangsawanan juga dikurniakan kepada kaum
lelaki. Paling penting, tidak ada seorang wanita pun yang telah
diangkat menjadi Nabi atau Rasul, malah semuanya dari golongan
lelaki." Jawab mereka pula dengan yakin.
"Memang betul pendapat tuan-tuan sekalian. Akan tetapi harus diingat
bahawa sejahat-jahat pangkat ada pada kaum lelaki juga. Siapa yang
mengagung-agungkan diri sendiri? Siapa yang begitu berani mendakwa
dirinya sebagai Tuhan? Dan siapa pula yang berkata : "Bukankah aku ni
tuhanmu yang mulia?" Dengan tenang, Rabi'atul Adawiyah membalas hujah
mereka sambil merujuk kepada Firaun dan Namrud.
Kemudian Rabi'atul Adawiyah menambah lagi, "Anggapan dan ucapan
seperti itu tidak pernah keluar dari mulut seorang wanita. Malah
semuanya ditimpakan kepada kaum lelaki."
Dengan seorang pencuri
Suatu malam yang sunyi sepi, di kala masyarakat sedang khusyuk tidur,
seorang pencuri telah menceroboh masuk ke dalam pondok Rabi'atul
Adawiyah.
Namun setelah menyelongkar sekeliling berkali-kali, dia tidak menemui
sebarang benda berharga kecuali sebuah kendi untuk kegunaan berwuduk,
itupun telah buruk. Lantas si pencuri tergesa-gesa untuk keluar dari
pondok tersebut.
Tiba-tiba Rabi'atul Adawiyah menegur si pencuri tersebut, "Hei, jangan
keluar sebelum kamu mengambil sesuatu dari rumahku ini." Si pencuri
tersebut terperanjat kerana dia menyangka tiada penghuni di pondok
tersebut. Dia juga berasa hairan kerana baru kini dia menemui tuan
rumah yang begitu baik hati seperti Rabi'tul Adawiyah. Kebiasaannya
tuan rumah pasti akan menjerit meminta tolong apabila ada pencuri
memasuki rumahnya, namun lain pula yang berlaku.
"Sila ambil sesuatu." kata Rabiatul Adawiyah lagi kepada pencuri tersebut.
"Tiada apa-apa yang boleh aku ambil daripada rumah mu ini." kata si
pencuri berterus-terang.
"Ambillah itu!" kata Rabi'atul Adawiyah sambil menunjuk pada kendi
yang buruk tadi.
"Ini hanyalah sebuah kendi buruk yang tidak berharga." Jawab si pencuri.
"Ambil kendi itu dan bawa ke bilik air. Kemudian kamu ambil wudhu'
menggunakan kendi itu. Selepas itu solatlah 2 rakaat. Dengan demikian,
engkau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga daripada pondok
burukku ini." Balas Rabi'tul Adawiyah.
Mendengar kata-kata itu, si pencuri tadi berasa gementar. Hatinya yang
selama ini keras, menjadi lembut seperti terpukau dengan kata-kata
Rabi'tul Adawiyah itu. Lantas si pencuri mencapai kendi buruk itu dan
dibawa ke bilik air, lalu berwudhu' menggunakannya.. Kemudian dia
menunaikan solat 2 rakaat. Ternyata dia merasakan suatu kemanisan dan
kelazatan dalam jiwanya yang tak pernah dirasa sebelum ini.
Rabi'atul Adawiyah lantas berdoa, "Ya Allah, pencuri ini telah
menceroboh masuk ke rumahku. Akan tetapi dia tidak menemui sebarang
benda berharga untuk dicuri. Kemudian aku suruh dia berdiri
dihadapan-Mu. Oleh itu janganlah Engkau halang dia daripada
memperolehi nikmat dan rahmat-Mu."
Dengan seorang pemuda
Suatu hari, Rabi'atul Adawiyah terlihat seseorang sedang
berjalan-jalan dengan kepalanya berbalut sambil menagih simpati
daripada orang ramai. Kerana ingin tahu sebabnya orang itu berbuat
demikian, Rabi'atul Adawiyah bertanya, "Wahai hamba Allah! Mengapa
engkau membalut kepalamu sebegini rupa?"
"Kepalaku sakit." Jawab orang itu dengan ringkas.
"Sudah berapa lama?" Tanya Rabi'atul Adawiyah lagi.
"Sudah sekian hari." Jawabnya dengan tenang.
Lantas Rabi'atul Adawiyah bertanya lagi,"Berapa usiamu sekarang?"
Orang itu menjawab,"Sudah 30 tahun"
"Bagaimana keadaanmu selama 30 tahun itu?" Tanya beliau lagi.
"Alhamdulillah, sihat-sihat saja." Jawabnya.
"Apakah kamu memasang sebarang tanda di badanmu bahawa kamu sihat
selama ini?" Tanya Rabi'atul Adawiyah.
"Tidak." Jawab orang itu ragu-ragu.
"Masya Allah, selama 30 tahun Allah telah menyihatkan tubuh badanmu,
tetapi kamu langsung tidak memasang sebarang tanda bagi menunjukkan
kamu sihat sebagai tanda bersyukur kepada Allah. Jika sebaliknya,
pasti manusia akan bertanya kepada kamu sebabnya kamu sangat gembira.
Apabila mereka mengetahui nikmat Allah kepadamu, diharapkan mereka
akan bersyukur dan memuji Allah." Jelas Rabi'atul Adawiyah.
"Akan tetapi, kini apabila kamu mendapat sakit sedikit, kamu balut
kepalamu dan kemudian pergi ke sana sini bagi menunjukkan sakitmu dan
kekasaran Allah terhadapmu kepada orang ramai, Mengapa kamu berbuat
hina seperti itu?" Sambung Rabi'atul Adawiyah lagi.
Orang yang berbalut kepalanya itu hanya diam seribu bahasa dan
tertunduk malu denga perlakuannya. Kemudian dia beredar meninggalkan
Rabi'atul Adawiyah dengan perasaan kesal dan insaf.
Kata kata mutiara rabiatul adawiyah
" Biar waktu yang akan membuktikan .......
bahwa tiap langkah yang telah dipijakkan,
tiap tetesan darah dan keringat yang telah dialirkan,
tiap jiwa yang telah melayang,
akan samapai pada satu keadaan .......
dimana keadilan adalah nadinya,
kesejahteraan adalah nafasnya,
kebijaksanaan adalah sifatnya,
dan Ridho Sang Khalik adalah tujuannya. "
" Tuhanku, apa-apa saja yang hendak kau berikan kepadaku di dunia ini
maka berikanlah kepada musuh-musuh MU.
Serta apa-apa saja yang hendak kau berikan kepada ku di akhirat kelak,
maka berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu.
Sebab engkau saja cukuplah bagiku "
(Rhobiyatul Al-Adawiyah)
Posted by Rockbebeh at 9:30 PM
Labels: Tanbihul Ghafilin (Peringatan bagi yang lupa)
Newer Post Older Post
Subscribe to:
Comments (Atom)